Semburan Sulit Dihentikan

Dipublikasikan tanggal .

Oleh: Dr. Ir. Didi S. Agustawijaya, M.Eng

Kepala Kelompok Kerja Perencanaan Bidang Operasi
Bapel BPLS

Peristiwa semburan lumpur panas yang terjadi sejak tanggal 29 Mei 2006 sampai sekarang masih terus berlangsung, dan belum menunjukkan akan berhenti. Berbagai upaya telah dilakukan untuk menghentikan semburan. Akan tetapi semua usaha tidak memberikan hasil. Berbagai alternatif lain juga ditawarkan untuk usaha penghentian semburan ini. Akan tetapi baik si pengusul teknologi penutupan, maupun para ahli geologi di dunia tidak ada yang bisa memberikan jaminan keberhasilan akan usaha penghentian semburan lumpur di Sidoarjo tersebut. Semua usulan bersifat hipotesis dan coba-coba. Padahal Pemerintah, dalam hal ini Bapel-BPLS, menghendaki jaminan keberhasilan atas semua usulan tersebut.

Tapi mungkin ada baiknya menelusuri usaha-usaha penghentian semburan lumpur yang sudah pernah dilakukan. Berikut beberapa periode penanganan semburan dan luapan lumpur yang sudah dilakukan sejak kemunculan semburan lumpur di Sidoarjo.

a.     Periode awal

Pada periode awal, saat semburan belum lama terjadi, para ahli pengeboran saat itu sangat optimis bahwa semburan lumpur panas merupakan “underground blow out” yang dapat dihentikan. Maka berbagai metode penghentian semburan dilakukan, yaitu: snubbing unit, side tracking dan relief well. Usaha-usaha tidak memberikan hasil. Semburan tetap keluar dengan volume, laju dan kecepatan yang relatif tetap. Kemudian, kolam dibangun dengan ukuran terbatas seirama dengan optimisme semburan dapat dihentikan. Upaya terakhir yang dilakukan untuk menghentikan semburan adalah insersi High Density Chained Ball, namun upaya ini juga tidak berhasil. Laju semburan tetap berkisar 100.000 m3 per harinya pada saat itu.

b.     Periode pengendalian luapan lumpur

Karakteristik semburan lumpur panas menunjukan gejala fenomena mud volcano. Penanganan luapan lumpur yang keluar dari semburan utama dilakukan dengan menggunakan prinsip hydrostatic counter pressure. Prinsip ini adalah membangun tanggul cincin di sekeliling pusat semburan sebagai sarana untuk mengendalikan tekanan dan volume semburan, serta arah aliran luapan lumpur. Dalam periode ini, kolam penampung dibangun lebih luas dan diterapkan sistem pengaliran lumpur ke Kali Porong melalui spillway. Dalam perjalanannya karena kolam penampung semakin penuh dan fungsi spillway kurang efektif, maka sistem pengaliran lumpur ke Kali Porong menggunakan sistem mekanisasi.

Berdasarkan laju semburan dan pengamatan langsung di lapangan, tampak bahwa energi dorong yang diberikan oleh semburan sangat tinggi. Lumpur berasal dari formasi batulempung, batu lanau, dan batu serpih pada kedalaman lebih dari 1000 m di bawah permukaan. Suhu semburan di permukaan adalah tinggi, sekitar 1000 C. Ketiga parameter tersebut: volume, kedalaman dan suhu, merupakan indikasi yang kuat bahwa energi dorong yang diberikan oleh semburan adalah sangat tinggi.

c.     Periode hilangnya tanggul cincin

Tanggul cincin dibangun untuk mengalihkan arah aliran semburan, sehingga aliran semburan menuju Kali Porong. Tanggul cincin dibangun sekitar pusat semburan utama. Kendala utama yang dialami oleh tanggul cincin adalah penurunan tanggul. Penurunan yang dialami oleh tanggul cincin adalah sebesar 20 cm per harinya. Pembangunan tanggul cincin telah menghabiskan tanah timbun sekitar 176 dump truck per hari.

Kondisi demikian ini menyebabkan tanggul cincin secara teknis dan biaya sulit dipertahankan. Mempertahankan struktur tanggul sesuai dimensi dan elevasi yang direncanakan sangat sulit, bahkan semakin ambles. Ditinjau dari aspek ekonomi juga tidak efektif dan efisien, karena tidak dapat diukur target selesainya dan biaya yang diperlukan sangat besar. Maka metode tanggul cincin tidak dilanjutkan.

d.     Periode mekanisasi pengaliran luapan lumpur ke Kali Porong

Pada akhirnya pada pertengahan tahun 2009 tanggul cincin sudah hilang. Maka luapan lumpur sudah tidak bisa dikendalikan lagi arahnya. Karena secara dimensi dan volume sangat sulit untuk mengalihkan arah aliran luapan lumpur. Untuk mengatasi keadaan seperti ini, perlu disiapkan Rencana Mitigasi Luapan Lumpur, antara lain dengan memperluas kolam penampungan lumpur dalam wilayah Peta Area Terdampak dan membangun tambahan sistem pengaliran luapan lumpur dari kolam Renokenongo ke Kali Porong.

Penambahan sistem mekanisasi pengaliran luapan lumpur dilakukan pada akhir tahun 2009, dengan melakukan pengadaan kapal keruk dan booster. Pengadaan ini bertujuan untuk memacu pengaliran luapan lumpur ke Kali Porong.  Akan tetapi efektifitas sistem mekanisasi ini memang harus ditingkatkan karena lumpur sangat kental sehingga sulit bergerak tanpa pengenceran. Hal ini memberikan dampak teknis pada kapal keruk dan sistem pengalirannya.

Dari uraian di atas tampak bahwa semburan memang sangat sulit untuk dihentikan karena faktor-faktor geologi yang ada di sekitar semburan lumpur, baik faktor di permukaan maupun di bawah permukaan. Faktor geologi yang paling berperan dalam semburan sulit dihentikan adalah bahwa intensitas semburan yang luar biasa baik secara volume maupun secara tekanannya. Faktor geologi lain adalah ternyata amblesan, yang dikenal dengan istilah subsidence, sangat menentukan fenomena semburan lumpur di Sidoarjo. Pergerakan tanah secara vertikal ini juga diikuti oleh pergerakan tanah secara lateral. Kedua pergerakan inilah yang kemudian menjadi kendala yang luar biasa untuk penanganan semburan dan luapan lumpur. Jadi singkatnya bahwa semburan lumpur di Sidoarjo, secara teknis dan biaya, sangat sulit untuk dihentikan.