Perkiraan Kemungkinan Panjang Umur untuk Mud Volcano LUSI, Jawa Timur

Dipublikasikan tanggal .

PROBIBILISTIC LONGEVITY ESTIMATE

FOR THE LUSI MUD VOLCANO, EAST JAVA

Richard J. Davies1,*, Simon A. Mathias1, Richard E. Swarbrick1,2 and Mark J. Tingay3

1. Department of Earth Sciences, Durham University, Durham DH1 3LE, UK
2. GeoPressure Technology, Mountjoy Research Centre, Durham DH1 3UZ, UK
3. Department of Applied Geology, Curtin University, Perth, WA 6845, Australia

*Corresponding author (e-mail: This e-mail address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it. )

Perkiraan Kemungkinan Panjang Umur untuk Mud Volcano LUSI, Jawa Timur

Penelaahan dengan Kata Kunci dalam bahasa Indonesia

Dikontribusikan Oleh: Prof. Dr. Hardi Prasetyo

 


 

 SARI

 

Suatu metoda baru untuk perhitungan perkiraan durasi Lusi

A new method for estimating the duration of a mud volcano eruption is applied to the LUSI mud volcano in East Java.

Suatu metoda baru untuk memperkirakan durasi (panjang umur) dari suatu semburan Lusi mud volcano, telah diaplikasikan untuk LUSI mud volcano.

Catatan:

  1. Perhitungan durasi yang diusulkan R. Davies et al. (selanjutnya ditulis Davies) dianggap baru, dalam arti berbeda baik dari umumnya diterapkan untuk mud volcano, maupun khususnya untuk Lusi mud volcano.
  2. Sejak tahun 2007, Davies menetapkan Lusi sebagai suatu mud volcano, yang memberikan implikasi mengikuti kaidah atau sistem perkembangan mud volcano, antara lain terjadinya ‘sudden collapse’.

 

Basis perhitungan menggunakan asumsi utama air berasal dari karbonat dalam, dengan parameter-parameter yang digunakan pada pemodelan.

The estimate is based upon carbonates at depths in the range 2500–3500 m being the water source, with an estimated area of 100–600 km2, thickness of 0.2–1.0 km, porosity of 0.15–0.25, an initial pressure between 13.9 and 17.6 MPa, and a separate, shallower source of mud (c. 1200–1800 m depth).

Perkiraan didasarkan pada karbonat dengan kedalaman berkisar 2500-3500 m sebagai sumber air (water source), dengan daerah cakupan diperkirakan seluas 100-600 km2, ketebalan 0,2 - 1,0 km, porositas (porosity) 0,15-0,25, tekanan awal antara 13,9 dan 17,6 MPa, dan dipisahkan dengan sumber lumpur lebih dangkal pada interval kedalaman 1200-1800 m.

 

Catatan:

  1. Secara konsep, Davies memegang teguh pemahamannya, bahwa sumber air ‘overpressure’ berada lebih dalam (interval  2500-3500 m) yaitu pada reservoir karbonat (Formasi Prupuh – Formasi Kunjung – Formasi Tuban).
  2. Sedangkan sumber lumpur berada lebih dangkal di atasnya (interval 1200 -1800 m), yaitu Formasi Kalibeng Atas (secara umum diterima).
  3. Davies tetap yakin bahwa sumur BJP-1 telah menembus lapisan reservoir air overpressure karbonat Formasi Prupuh, walaupun disanggah oleh Mazzini.
  4. Mazzini dan Istadi, menganggap bahwa air yang disemburkan Lusi terutama berasal dari proses diagenesis mineral smektik ke ilit dari satuan lempung dari Formasi Kalibeng Atas (dikenal dengan konsep sumber air dangkal).
  5. Parameter karakteristik reservoir antara lain menggunakan analogi dengan data sumur eksplorasi Porong-1, yang sebelumnya telah dipublikasikan.

 

Hasil perhitungan untuk waktu yang diperlukan untuk semburan menurun sampai 0,1 juta/hari 26 Tahun

The resulting 50 percentile for the time it takes for flow to decline to <0.1 Ml day–1 is 26 years.

Hasil 50 persentil untuk waktu yang diperlukan untuk aliran mengalami penurunan lebih kecil <0.1 Ml day–1 adalah 26 tahun.

Catatan:

Perhitungan lainnya umumnya menggunakan kisaran durasi atas (top) dan bawah (bottom), namun Davies berdasarkan total volume air overpressure di reservoir batu gamping Formasi Prupuh. Durasi tersebut bukan berarti semburan = 0 tapi mencapai 0,1 juta liter/hari.

 

Suatu analogi umum bahwa mud volcano secara alami dapat berlanjut sampai ribuan tahun

By analogy with natural mud volcanoes it can be expected to continue to flow at lower rates for thousands of years.

Sebagai analogi dengan mud volcano yang alami, panjang umur luapan diperkirakan akan berlanjut pada kecepatan rendah (low rates) untuk ribuan tahun.

Catatan:

  1. Hal penting adalah bahwa mud volcano umumnya, setelah pasca tahap semburan tinggi, setelah masuk pada semburan rendah, dapat terus mengalirkan lumpur sampai ratusan tahun. Tipe mud volcano yang dimaksud adalah yang mempunyai kecepatan aliran (flow rates) rendah, dalam paper ini diberi contoh seperti yang terjadi di Wootton Bassett, Inggris.
  2. Analogi juga dapat diamati dari 14 mud volcano selain Lusi yang berkembang di Jawa Tengah (termasuk Bleduk Kuwu) dan Jawa Timur yang terus meluapkan lumpur (terkadang dalam bentuk resapan) sampai ratusan tahun.

 

Perkiraan amblesan tanah permukaan selama 26 tahun: 95-475m

Assuming subsidence rates of between 1 and 5 cm day–1, land surface subsidence of between c. 95 and c. 475 m can be expected to develop within the 26 year time period.

Diasumsikan bahwa kecepatan semburan antara 1 dan 5 cm/hari, amblesan tanah permukaan (land surface subsidence) dapat diperkirakan selama 26 tahun antara 95 dan 475m.

Catatan:

  1. Davies menggunakan asumsi besarnya kecepatan amblesan (subsidence rates) antara 1 dan 5 cm/hari, berdasarkan hasil penyelidikan Abidin et al (2008).
  2. Asumsi modeling perhitungan total land subsidence, dengan asumsi bahwa perhitungan dari Abidin berlaku kontinyu, yaitu flat rate of subsidence.
  3. Pada sisi lain, Andreas dan Abidin (2010) telah menyatakan bahwa rate of subsidence pada tahun 2009-2010 jauh menurun dari kondisi 2006-2009, dengan kisaran puluhan sentimeter dan puluhan desimeter per tahun, dibandingkan antara 1-5 cm/hari (digunakan Davies).
  4. Pantauan Bapel BPLS juga menunjukkan indikasi adanya kecepatan penurunan rate of subsidence, terutama pada tahun 2010-2011.
  5. Bila ingin mendapatkan gambaran terhadap total land subsidence adalah angka rate BPLS (dalam hari) dikali 30 (bulan) dikali 12 (tahun) dikali 26 tahun.

 

PENDAHULUAN

 

Penekanan terhadap perilaku semburan (eruptive behavior) Mud Volcano; kasus perbedaan yang ekstrim antara di Azerbaijan dan Trinidad tahap perulangan dengan Wootton Bassett (UK) kecepatan semburan rendah

Perilaku semburan (eruptive behavior) dari suatu mud volcano (selanjutnya disebut MV) sangatlah bervariasi (highly variable).

MV dengan skala kilometer antara lain di Azerbaijan dan Trinidad, memperlihatkan bukti semburan berperilaku berulang (cyclic behavior), yaitu: liar (violent), berpotensi merusak (potentially destructive), semburan umumnya berlangsung dengan kisaran durasi antara jam sampai hari, diselingi oleh suatu periode masa istirahat yang lebih panjang (longer dormancy).

Sebagai perbandingan telah disandingkan MV yang berkembang di dekat kota Wootton Bassett (UK) dengan perilaku berskala meter.

Kecepatan semburan yang sangat rendah (very low eruption rates), dan tidak ada rekaman sejarah adanya semburan liar (violent eruption) (Bristow et al., 2000).

Catatan:

  1. Hal mendasar sebagai kata kunci adalah bahwa perilaku semburan MV sangat bervariasi, berkisar dari semburan liar sampai semburan sangat lemah, atau kecepatan semburan rendah. Variasi yang lebar juga berlaku untuk jenisnya, berkisar dari MV yang benar-benar menyerupai kenampakan gunung berapi hasil proses magma (magmatic volcano), sampai hanya yang berupa danau lumpur (mud lake). Dari dua contoh perilaku MV yang ekstrim tersebut, pertanyaannya adalah dimana posisi Lusi MV?
  2. Secara umum perilaku MV Lusi (selanjutnya Lusi) dikenal dengan semburan uap, air, lumpur dengan tendangan ‘kick’ lumpur. Kecepatan semburan pernah mencapai maksimum 180.000 m3/hari, rata-rata 64.000 - 100.000 m3/hari, dan berlangsung dalam waktu lebih dari 3 tahun, yang kemudian diberi predikat sebagai semburan mud volcano terbesar di dunia. Sejak awal tahun 2010 perilaku yang ‘lex generalist’ tersebut telah mengalami perubahan cukup mendasar. Saat ini kecepatan semburan (eruption rate) Lusi telah mengalami penurunan secara drastis yaitu sekitar 10.000 m3/hari, dengan material yang dihasilkan terutama air dan lebih sedikit lumpur (koloidal). Walaupun kenampakan semburan Lusi di lapangan, ditandai dengan asap uap (steam smoke) berwarna putih, dibarengi dengan tendangan lumpur menyerupai pola ‘geyser’, namun tidak didapatkan adanya gelombang lumpur panas (hot mud wave), sebagaimana yang sangat dikenal sebagai perilaku Lusi masa lalu (2006-2009).
  3. Atas dasar fakta lapangan tersebut, secara umum Lusi dapat disetarakan sebagai mud volcano tipe transisi (transition type) dari Azerbaijan dan Trinidad (berpotensi merusak), disertai siklus ‘dormancy’ ke tipe Wootton Bassett (UK), ditandai dengan kecepatan semburan yang rendah.

 

Sebelumnya panjang umur MV tidak terlalu mendapatkan perhatian untuk dikaji

Perkiraan panjang umur MV (longevity of mud volcano) sebelumnya tidak terlalu diupayakan untuk dikaji secara tersendiri. Hal ini karena umumnya MV menyembur di daerah dengan kepadatan penduduk yang rendah (seperti Azerbaijan), atau sangat kecil untuk diperhatikan/diperhitungkan (seperti halnya di Wootton Bassett UK), dan tidak memberikan dampak kepada masyarakat luas.

Catatan:

  1. Umumnya MV di dunia, khususnya di Azerbaijan dan Trinidad terjadi pada daerah terpencil (remote area), jauh dari kawasan permukiman penduduk yang padat (dense population). Keberadaan MV tersebut tidak menimbulkan dampak negatif pada sendi-sendi kehidupan masyarakat.
  2. Sebaliknya di Azerbaijan dan Trinidad, keberadaan dari MV digunakan sebagai alat bantu dalam eksplorasi migas, sehingga tidak ada urgensi untuk melakukan perkiraan longevity.

 

Dari sudut pandang kedudukan geografi dan implikasinya, MV Lusi disebutkan sebagai MV yang unik di dunia

 
 

Gambar 1. (a) Peta Lokasi. (b) Foto Satelit Lusi dan sekitarnya (Mei 2010), Davies (2011)

 

Untuk MV Lusi yang berkembang di Jawa Timur di Indonesia, kondisi tersebut menjadi berbeda, merupakan salah satu yang unik di dunia (unique on Earth) dicirikan dengan: luas daerah Lusi menutupi daerah 7 km2, berkembang di daerah berpenduduk padat di Sidoarjo Jawa Timur, serta menyebabkan sekitar 13.000 keluarga kehilangan rumahnya.

Catatan:

  1. Davies menyebutkan MV Lusi sebagai MV yang paling unik di dunia, adalah karena sebagai suatu MV yang awalnya berperilaku sebagai semburan liar (violent eruption). Berkaitan dengan perubahan perilaku menuju ke tingkat yang lebih lemah dari tipe berpotensi merusak menuju dormancy, ditandai penurunan kecepatan semburan secara drastis, serta material keluaran berupa air saja.
  2. Keunikan MV Lusi sebagaimana disampaikan Davies adalah karena telah berkembang di daerah permukiman padat, dan telah menimbulkan kerugian  pada masyarakat, hal ini berbeda dengan MV pada umumnya, yang berkembang di daerah terpencil (remote area).

 

Julukan LUSI sebagai ‘Highest eruption rate on earth’, dan semburan bertenaga (vigorous)

Kecepatan semburan Lusi yang mencapai lebih dari 180.000 m3/hari (Manzzini et al., 2007), sehingga disebut sebagai suatu mud volcano dengan kecepatan semburan tertinggi di bumi (highest eruption rate on earth);

Termasuk kuat atau bertenaga (vigorous), karena MV LUSI tidak atau belum mengalami suatu siklusitas (cyclic), sejak awal terjadinya semburan pada 29 Mei 2006.

Catatan:

  1. Angka semburan maksimum yang diacu oleh Davies sebesar 180.000 m3/hari dan terus berlangsung selama 3 tahun dengan rata-rata 100.000 m3/hari. Disamping itu disebutkan bahwa semburan lusi tipe bertenaga (vigorous), dicerminkan oleh tendangan (kick) disertai gelombang (wave) dari lumpur panas. Atas dasar kondisi tersebut, sehingga ditetapkan Lusi memegang rekor dunia sebagai ‘highest eruption rate on Earth’.
  2. Terkait volume semburan dengan volume 180.000 m3/hari, Davies mengacu dari publikasi Manzzini (2007), yang pada makalahnya antara lain dipengaruhi oleh adanya gempabumi pada Desember 2006.
  3. Terkait dengan rata-rata semburan selama 3 tahun antara 2006-2009, sebesar 100.000 m3/hari, Tingay pada artikel berjudul Anatomi Mud Volcano Lusi (2010) telah melakukan revisi kecepatan semburan rata-rata menjadi  64.000 m3/hari.

 

Rasionalisasi MV Lusi dengan relief rendah (low relief): Kecepatan amblesan MV ditentukan 5,5 cm/hari, material campuran air-lumpur

MV Lusi mengalami amblesan (subsidence) dengan kecepatan amblesan (subsidence rate) lebih dari 5,5 cm/hari (Abidin et al., 2008; Istadi et al. 2009), pusat semburan Lusi dengan lebar 50 m. Karena adanya amblesan dibarengi dengan kandungan air dari semburan campuran air-lumpur-gas, maka mud volcano mempunyai relief yang rendah (low relief).

Catatan:

  1. Hasil studi pergerakan tanah (land displacement) oleh Abidin et al (2008), berdasarkan kombinasi teknologi GPS dan Remote sensing INSAR, telah digunakan sebagai baseline information, oleh hampir semua ahli kebumian dalam pembahasan aspek geohazard. Namun, hasil studi terbaru dari Andreas dan Abidin (2010), menunjukkan bahwa sejak tahun 2009-2010 kecepatan amblesan telah menurun dengan signifikan, dengan intensitas hanya berkisar cm sampai desimeter per tahun. Sayangnya informasi ini belum diacu oleh Davies, kemungkinan karena makalah Andreas tersebut baru dipresentasikan dan belum diterbitkan pada jurnal ilmiah terkemuka.
  2. Realitas di atas, diharapkan dapat digunakan oleh BPLS guna mengaktualisasikan parameter besar dan pola amblesan tanah yang mempunyai nilai strategis.
  3. Pusat semburan mud volcano Lusi, sejak Oktober 2010 jumlahnya sangat bervariasi antara 1, 2 dan 3. Demikian juga berdasarkan analisis citra satelit dan foto udara berselang waktu (time series) menunjukkan bahwa geometri serta dimensi pusat semburan utama berubah terhadap waktu, namun lebar kawah lebih dari 75 m. Foto udara status 23 Januari 2011 sangat jelas menunjukkan kenampakan menyerupai ‘crop circle’, yang selaras dengan hasil penelitian Andreas (2010), sebagai hasil dari proses pembentukan kaldera atau disebut (caldera subsidence).
  4. Morfologi gunung lumpur di permukaan menunjukkan dinamika dengan bentuk umum radial yang asimetri dengan bagian yang lebih luas ke arah utara dan timur. Terjadi perubahan morfologi dari suatu bentuk cone radial menjadi lebih kubah landai (smooth dome).
  5. Perubahan morfologi gunung lumpur di atas, antara lain disebabkan oleh terjadinya reorganisasi mud volcano Lusi, pembentukan kaldera (caldera formation) ditandai dengan amblesan tipe sudden collapse di sekitar kawah, serta rendahnya viskositas lumpur padu bila dibandingkan dengan batuan volkanik magmatik.

 

Basis data geologi bawah permukaan seismik refleksi dan dua sumur eksplorasi

Kondisi geologi bawah permukaan (subsurface) didefinisikan dengan baik oleh adanya dua sumur eksplorasi komersial migas (petroleum commercial exploration well).

Satu sumur eksplorasi telah dibor sejauh 150 m dari lokasi yang selanjutnya berkembang menjadi kawah utama (main vent), serta tersedia penampang seismik refleksi 2-D memotong daerah tersebut.

Catatan:

  1. MV Lusi berada pada wilayah KPS (contract production sharing) Migas Blok Brantas, mencakup wilayah lapangan produksi gas alam (gas field) Wunut dan Tanggulangin. Sumur BJP-1 merupakan sumur eksplorasi, yang sebelum dilakukan pemboran selalu diawali dengan pengambilan data seismik refleksi 2-D.Penafsiran secara komprehensif terhadap data seismik refleksi, selanjutnya difokuskan untuk memahami tatanan geologi bawah permukaan di sepanjang lintasan, yang pada akhirnya dapat menentukan lokasi-lokasi (umumnya minimal 3) sumur eksplorasi. Sampai saat ini, data penampang seismik refleksi yang ada, terbatas dengan data seismik refleksi 2-D, dan belum tersedia data seismik refleksi 3-D. Rencananya baru akan dilakukan oleh Badan Geologi, KESDM pada tahun 2011. Kenampakan lapisan-lapisan sedimen yang terekam pada penampang seismik refleksi, umum disebut sebagai ciri pemantul (reflector signature) akan dikonversi menjadi satuan stratigrafi, berdasarkan korelasi dengan sumur pemboran (BJP-1).
  2. Tim Rusia (2009) telah menggunakan data seismik refleksi 2-D analog, selanjutnya diproses dengan teknologi GIS-3D untuk mendapatkan model-3D bawah permukaan mud volcano Lusi. Dari studi tersebut telah diindikasikan terdapatnya 2 struktur lumpur, yang umum dikenal sebagai mud diapir. Lebih jauh lagi Tim Rusia telah memberikan peringatan dini terhadap berpotensinya mud diapir tersebut berkembang menjadi mud volcano.

 

Bencana geologi Lusi, dengan tingkat pengendalian bencana sangat ekstrim sulit (management disaster extremely difficult), dibandingkan dengan bencana ditimbulkan oleh gempabumi atau tsunami!

Saat ini, secara alami luapan lumpur berlangsung menerus (current continuous nature of mud flow). Disamping itu, belum ada pemahaman (knowledge) terhadap aspek luapan lumpur, seperti halnya mencakup aspek durasi (duration) dan evolusi (evolution) semburan Lusi. Hal tersebut yang menyebabkan penanggulangan bencana Lusi sangat ekstrim sulit (management disaster extremely difficult).

Kebencanaan Lusi secara total sangat berbeda bila dibandingkan dengan bencana geologi lainnya (completely different from other geological catastrophes), seperti halnya gempabumi dan tsunami.

Catatan:

  1. Disebutkan bahwa semburan mud volcano terus berlangsung sejak saat awal terjadi tahun 2006, namun telah terjadi perubahan yang dramatis, dimana kecepatan semburan telah menurun drastic dari rata-rata 10.000 m3/hari (2006-2009) menjadi hanya 15.000 m3/hari (2010-sekarang). Material yang disemburkan sebelumnya lumpur panas, saat ini hanya air dengan temperatur permukaan sekitar 600C. Aspek rasionalisasi kebijakan terkait penanganan bencana yang komprehensif, dan holistik jangka panjang, Lusi disebutkan bahwa kondisi keterbatasan knowledge antara lain ‘duration’ dan ‘evolution’ dari semburan Lusi. Hal ini diakui oleh Davies sehingga pengendalian bencana MV LUSI ekstrim sulit.
  2. Sebagai analogi tingkat kesulitan, dibandingkan dengan gempabumi dan tsunami, setelah terjadinya pengendali mekanisme bencana, selanjutnya dilakukan tanggap darurat, diikuti dengan tahap pemulihan dan rekonstruksi. Ekstrim berbeda dengan bencana MV Lusi, pengendali mekanisme bencana yaitu semburan Lusi diikuti dengan luapan lumpur padu, dibarengi dengan dampak berganda (multiplier impact) deformasi geologi terus berlangsung dari saat awal kejadian (continuous processes). Bersamaan dengan upaya penanggulangan semburan dan luapan lumpur, terus dilakukan penanganan masalah dampak sosial kemasyarakatan dan dampak infrastruktur.

 

Tujuan makalah adalah memperkirakan panjang umur (longevity) semburan MV Lusi, guna menentukan dampak akhir dari bencana MV Lusi

Tujuan paper Davies adalah mendapatkan pemahaman bawah permukaan, dengan menggunakan acuan dua sumur eksplorasi dan dari data seismik refleksi 2D untuk mengusulkan suatu metoda kemungkinan (probabilistic method) untuk memperkirakan (for the estimation) panjangnya masa kehidupan (longevity) dari MV LUSI. Hasil tersebut digunakan untuk memperkirakan dampak akhir (estimate the final impact) dari bencana kemanusiaan dan lingkungan (this humanitarian and ecological disaster).

Catatan:

Alur Pikir: Pemahaman bawah permukaan dilakukan dengan menganalisis data seismik refleksi 2D dan sumur eksplorasi, usulan metoda dan hasil perkiraan panjang kehidupan, dan perkiraan dampak akhir dari bencana. Alur dan pola pikir yang dikembangkan dalam beberapa hal, mempunyai kemiripan dengan studi yang telah dilakukan oleh Istadi et al (2009), Abidin (2008), dan Andreas dan Abidin (2010). Davies menekankan bahwa dampak tingkat akhir kebencanaan mud volcano Lusi adalah bencana kemanusiaan dan lingkungan (humanitarian and ecological disaster).

 

GEOLOGI BAWAH PERMUKAAN (SUBSURFACE GEOLOGY)

 

Sumur eksplorasi gas Banjar Panji-1, dan urut-urutan batuan sedimen (stratigrafi), bawah permukaan

Sumur eksplorasi gas Banjar Panji-1, yang telah dibor 150 m dari lokasi mud volcano Lusi, dengan target karbonat dari Formasi Prupuh.

Sumur telah dibor menembus satuan batuan sedimen: 1) Sedimen alluvial; 2) Pleistosen, selang seling batupasir dan serpih dari Formasi Pucangan (sampai kedalaman 900 m); 3) Pleistosen, lempung abu-abu kebiruan dari Formasi Kalibeng Atas (sampai kedalaman 1871 m); dan 4) Batuan volkanik dan batupasir volkanoklastik, tebal sekitar tebal 962 m.

Catatan:

  1. Stratigrafi di bawah sumur Banjar Panji-1 awalnya ditampilkan oleh Mazzini et al (2007) selanjutnya dijadikan ‘baselines’.
  2. Tingay (2010) mengusulkan perubahan stratigrafi terutama pada karbonat yang sebelumnya dikenal sebagai Formasi Kujung, selanjutnya diusulkan sebagai Formasi Tuban, pada makalah ini sebagai Formasi Prupuh, serta satuan pasir volkanoklastik, yang diusulkan diubah menjadi satuan batuan volkanik ekstrusif. Walaupun Tingay ikut sebagai salah satu penulis dalam paper Davies (2011), tapi hal tersebut tidak dimasukkan, bahkan juga tidak dibahas sama sekali? Diperkirakan ada ketidaksesuaian antara usulan perbaikan stratigrafi oleh Tingay dengan Davies sebagai penulis pertama.
  3. Tulisan Tingay (2010) mengusulkan perubahan tatanan stratigrafi, dalam upaya evaluasi anatomi dan pengendali mekanisme semburan Lusi. Terdapat perbedaan mendasar yang bersifat strategis antara Davies dan Mazzini. Davies konsisten berpendapat bahwa sumur BJP-1 menembus karbonat Formasi Prupuh. Mazzini (2007) dan (2009) bertahan bahwa BJP-1 tidak menembus satuan karbonat Formasi Kujung.

 

Bagian strategis dan taktis, sebagai upaya pembuktian bahwa sumur BJP-1 telah menembus satuan karbonat Formasi Prupuh, dengan analogi dari sumur Porong-1

 

 

Gambar 2. Orientasi utara-selatan garis seismik yang bersinggungan dengan Sumur Banjar Panji 1 (Sawolo et al. 2009), Davies 2011

 

 

 

Gambar 3. (a) Kolom stratigrafi MV Lusi. (b) Konsep permodelan diagram skematik 

 

Contoh cutting terakhir terdiri 5% dari karbonat dan sumur telah 281 m melebihi perkiraan kedalaman dari puncak Formasi Prupuh saat pemboran dihentikan, karena terjadinya drilling mud loss yang signifikan pada kedalaman 2813m.

Hilangnya lumpur (mud losses), merupakan fenomena yang sangat umum pada batuan karbonat Miosen di Indonesia.

Kusumastuti et al., (2002) menggunakan data seismik refleksi memperlihatkan bahwa bangunan karbonat (carbonate buildup) berbentuk memanjang, dengan arah NE-SW, dan sebagian adalah Formasi Prupuh.

Porong-1, berlokasi 6 km jauhnya dari Lusi dan dibor pada tahun 1993, menembus Formasi Prupuh, tebal 55 m berumur Miosen Bawah dengan porositas berkisar dari 5 -30% dan suatu kolam air.

Sumur pemboran lainnya dibor menembus lebih tebal lagi dengan porositas antara 11-32%.

Karena itu penafsiran penulis adalah sumur telah dibor kemungkinan terbesar pada kedalaman dari Formasi Prupuh.

Catatan:

  1. Pada bagian paragraf di atas, Davies telah meyakinkan bahwa sumur BJP-1 telah menembus lapisan karbonat Formasi Prupuh.
  2. Data sumur eksplorasi Porong-1 dan seismik refleksi yang melintas pada sumur tersebut menyediakan informasi yang lebih memadai terhadap karakteristik dan asal-usul dari satuan karbonat Formasi Prupuh.
  3. Posisi karbonat Formasi Prupuh bagi Davies sangat strategis, karena asumsi yang dikembangkan bahwa air Lusi berasal dari reservoir overpressure pada satuan batuan tersebut.

 

Formasi Kalibeng Atas sebagai sumber lumpur semburan Lusi

Paleontologi mikro dihasilkan dari LUSI memperlihatkan bahwa sumber dari lumpur pada kedalaman 1300-1800 m pada Formasi Kalibeng Atas, didominasi oleh batu lumpur overpressure (Mazzini et al., 2007).

 

Catatan:

Davies dan pakar kebumian lainnya umumnya telah bersepakat bahwa sumber dari lumpur semburan Lusi adalah dari Formasi Kalibeng Atas, sebagaimana diusulkan oleh Mazzini et al. (2007).

Perbedaan mendasar, Davies beranggapan sumber air dari karbonat Formasi Prupuh berbeda dengan sumber lumpur di Formasi Kalibeng Atas.

Sebaliknya Mazzini et al., (2007), menganggap sumber air terutama dari Formasi Kalibeng melalui proses transformasi mineral smektit ke ilit.

 

Uraian terhadap tiga alternatif sumber air, namun pada bagian akhir Davies sampai pada kesimpulan yang memenuhi kriteria adalah reservoir karbonat Formasi Prupuh

Air di lumpur ditentukan berasal (originated) dari satu atau tiga alternatif sumber: Batu lumpur di Formasi Kalibeng Atas, diusulkan oleh Manzzini (07) menggunakan kriteria geokimia (geochemical criteria), namun pilosilikat dari batu lumpur (fraksi lempung > 40%) mempunyai permeabilitas yang rendah dan tidak mampu untuk menyemburkan air pada kecepatan yang diukur, walaupun mudstone dapat mengkontribusikan untuk semburan air dan perubahan kimianya; 2) Batupasir volkanoklastik antara kedalaman 1871 dan 2830m, tapi dengan keseluruhan porositas hanya 2-6%, secara ekstrim mempunyai permeabilitas yang rendah; 3) Terumbu karbonat build-up (Formasi Prupuh), berdasarkan kebutuhan terhadap parameter sumber fluida dengan volume yang besar dan temperatur yang tinggi. Sehingga karbonat yang aslinya disebut sebagai Formasi Kujung (Davies et al. 2007), namun tampaknya merupakan bagian dari Formasi Prupuh (Kusumastuti et al., 2001). Kecepatan semburan yang awalnya 120.000-180.000 m3/hari dimana 60% adalah air (Istadi et al. 2009), dengan perkiraan temperatur 1000C. Pengukuran ke bawah sumur mengindikasikan bahwa suatu gradien panas bumi adalah 420C/km. Karena itu dibutuhkan adanya suatu akuifer dengan permeabilitas tinggi pada kedalaman lebih dari 2,4 km. Formasi Prupuh  berumur Miosen Awal telah dibuktikan dengan pemboran (sumur Porong-1), yang memenuhi kedua kebutuhan ini (Tanikawa et al 2010).

Catatan:

Dari tiga alternatif sumber air yaitu Formasi Kalibeng Atas, Pasir Volcano klastik, dan karbonat Formasi Prupuh, Davies lebih memilih alternatif yang memenuhi kriteria tertentu, yaitu Formasi Prupuh berumur Miosen Awal.

 

Pernyataan penting dari Davies yang mengalihkan fokus pembahasan dari perdebatan causing and triggering menjadi mencari implikasi bila pemboran BJP-1 menembus Formasi Prupuh

Memaknai perdebatan pemicu Lusi: Telah banyak perdebatan apakah Lusi telah dipicu oleh pemboran atau secara alami oleh gempabumi.

Makalah ini menyelidiki hipotesis implikasi pemboran pada batugamping Formasi Prupuh: Daripada menambah debat berlanjut, makalah ini menyelidiki implikasi hipotesis dari pemboran lubang bor BJP-1 yang dibor ke dalam Formasi Prupuh, yang mengalami depressurizing dari perspekstif hidrogeologi.

Alur pikir aliran air dari reservoir, menembus sumber lumpur, melalui saluran dari patahan, mengalir ke permukaan:  Sekali menembus permukaan, dihipotesiskan bahwa air berinisiasi naik melalui lubang bor BJP-1, bercampur dan ‘entrains’ batu lumpur yang lebih dangkal dari Formasi Kalibeng Atas. Selanjutnya bermigrasi ke atas melalui patahan Watukosek, menghasilkan suatu mud volcano dengan kelurusan berarah NE-SW.

Asumsi umum bahwa pada mud volcano sumber air lebih dalam terisolasi daripada sumber lumpur:  Konsep sumber dari dalam dan campuran antara fluida dengan lumpur bertekanan berlebih konsisten dengan banyak sistem mud volcano (mud volcano system) lainnya. sumber dari air adalah lebih dalam dan terisolasi dari sumber lumpur.

Proses erosi oleh aliran air dari reservoir dalam pada sumber lumpur overpressure dan under compacted: Air bermigrasi ke atas melalui patahan dan rekahan (water migrates upward through faults and fractures), dan berpotongan dengan lapisan argillaceous yang tiksotropik (thixotropic), bertekanan berlebih ‘overpressure’, dibawah kompaksi ‘under compacted’, dan susceptible untuk erosi bawah permukaan (subsurface erosion). Proses erosi tidak dimengerti tapi mungkin melibatkan erosi dari sisi sumur dari rekahan baru atau yang telah ada sebelumnya atau proses yang sama dengan pemipaan (piping). Dimana air mengerosi saluran, sebagaimana hal tersebut dapat diamati pada tanggul-tanggul terisi lumpur (clay-filled embankment dams).

 

DISKUSI DAN IMPLIKASI

Pemicu: 3 alternatif pemicu mud volcano:

Pemicu untuk mud volcano ditentukan baik oleh pemboran dan gempabumi Yogyakarta, atau kombinasi dari keduanya.

Catatan:

  1. Davies mengindikasikan tiga alternatif pemicu mud volcano Lusi yang selama ini telah berkembang menjadi kontroversi yang mengemuka adalah: (1) Lusi dipicu oleh kesalahan pemboran eksplorasi BJP-1, dikenal sebagai kejadian underground blow out, membentuk ’man made mud volcano’; (2) Lusi dipicu oleh kejadian gempabumi Yogyakarta 27 Mei 2006, selanjutnya mereaktivasi patahan Watukosek, membentuk ’natural mud volcano’; dan (3) kombinasi antara 1 dan 2.
  2. Mazzini et al. (2009) menekankan kombinasi penyebab (causing) dan pemicu (triggering), dimana sebelum terjadinya mud volcano diawali dengan sebab-sebab pembentukan mud diapir.

 

Pengembangan hipotesis sumur vertikal langsung pada Formasi Prupuh:

Sebagaimana didiskusikan di atas, model yang dipresentasikan di sini tidak dikaitkan langsung pada kebenaran penafsiran, namun lebih didasarkan pada keberadaan hipotesis dari suatu lubang sumur vertikal yang dibor langsung di atas atau ke dalam dari Formasi Prupuh.

Catatan:

  1. Makalah ini lebih menekankan untuk pada pengembangan hipotesis dimana pemboran dilakukan langsung secara vertikal menghubungkan keberadaan sumber air dari karbonat Formasi Prupuh, dengan sumber lumpur overpressure pada Formasi Kalibeng Atas.
  2. Sebagai konstrain penulis menekankan, tidak berfokus pada kebenaran hasil perhitungan benar.

 

Terdapat hubungan langsung antara sumber air dan sumber lumpur

Terdapat hubungan antara sumber air overpressure ke batu lumpur dari Formasi Kalibeng Atas, yang merupakan sumber dari lumpur dari semburan Lusi.

 

ASUMSI KUNCI

Ketidakjelasan yang ada pada perkiraan panjang hidup mud volcano, dikaitkan dengan geologi bawah permukaan

Meniadakan ketidakjelasan berasosiasi dengan mekanisme pemicu semburan Lusi, sehingga sumber ketidakjelasan terbesar adalah pada perkiraan waktu kehidupan (panjang hidup) semburan mud volcano Lusi, yang berhubungan dengan kondisi geologi bawah permukaan.

Catatan:

Aspek ketidakjelasan dari perkiraan panjang umur dari mud volcano adalah terkait dengan kondisi geologi bawah permukaan. Selama ini data yang tersedia dianggap masih kurang memadai untuk melakukan perhitungan secara akurat, karena itu dalam paper ini digunakan terminologi usulan estimasi dari perkiraan panjang umur, karena data utama masih menggunakan analogi dari lokasi sumur eksplorasi lainnya (Porong-1).

 

Perhitungan volume akuifer

Khususnya volume akuifer dimana ditentukan melalui simulasi Monte Carlo dari input.

Catatan:

Metoda perhitungan volume akuifer menggunakan simulasi Monte Carlo.

Perhitungan volume akuifer akan menjadi lebih tepat, bila tersedia data seismik refleksi 3-d, yang direncanakan akan diambil tahun 2011 oleh Badan Geologi, KESDM.

Data pendukung memperkuat lapisan karbonat mempunyai porositas yang baik

Data seismik bawah permukaan dilakukan oleh Kusumastuti et al. (2002) menunjukkan relatif tidak terpatahkan, bahwa karbonat berlapis diasumsikan mempunyai hubungan porositas yang baik.

Catatan:

Fenomena keberadaan carbonate build up Formasi Prupuh digunakan untuk memperkuat asumsi bahwa parameter tingginya angka porositas dipenuhi, agar dapat berperan sebagai reservoir dari air.

 

Asumsi bahwa sumber air merupakan sistem tertutup terhadap sumber lumpur

Asumsi lainnya bahwa sumber air berperan sebagai sistem tertutup (closed system) dan tidak tersingkap untuk diimbuhi dari sumber fluida pori lebih dalam (deeper pore fluids sources). 

Catatan:

Untuk menghasilkan tekanan yang memadai overpressure pada reservoir, maka diasumsikan bahwa sumber air merupakan suatu sistem tertutup, sehingga tidak menerima imbuhan dari sumber fluida lainnya.

 

SUMBER AIR

Meniadakan lumpur Kalibeng Atas sebagai sumber fluida utama

Dari perhitungan yang telah diterapkan di atas, perhitungan Davies menganggap bahwa formasi yang memasok air membutuhkan suatu permeabilitas antara 50 dan 700 mD.

Empat sampai delapan order besarnya daripada diperkirakan dari penggunaan model batu lumpur pilosilikat (phyllosilicate mudstone), secara efektif mengeluarkan mudstone dari Kalibeng Atas sebagai sumber fluida utama.

Catatan:

Menempatkan suatu persyaratan bahwa pasokan air berlanjut dengan intensitas tinggi memerlukan nilai permeabilitas antara 50 dan 700 mD, jauh lebih kuat daripada bila sumber pada lumpur pilosilikat. Hal ini meniadakan kemungkinan sumber fluida utama dari Formasi Kalibeng.

Justifikasi bahwa satuan karbonat Formasi Prupuh lebih tepat sebagai kandidat sumber air

Sebagaimana diusulkan oleh Davies et al 2007, karbonat Formasi Prupuh dengan permeabilitas yang lebih tinggi (higher  permeability) yang ditembus oleh sumur di dekat Lusi dan dipetakan pada data seismik, tampaknya lebih tepat sebagai kandidat (Tanikawa et al., 2010). 

Catatan:

Bahwa Karbonat Formasi Prupuh dengan memiliki permeabilitas yang tinggi, yang telah ditembus sumur BJP-1, ditegaskan lebih tepat sebagai kandidat sumber air.

 

ESTIMASI MASA HIDUP LAINNYA (LONGEVITY ESTIMATIONS)

Asumsi Istadi kecepatan semburan 100.000 m3/hari untuk memperkirakan jumlah tahun sumber lumpur deplesi

Istadi et al (2009) menggunakan volume dari Formasi Kalibeng Atas 1 dan kecepatan semburan konstan setiap harinya 100.000 m3, untuk memperkirakan jumlah tahun yang akan dilalui sampai  sumber lumpur mengalami deplesi.

Catatan:

Menyoroti perhitungan panjang umur semburan Lusi dari Istadi (2009) yang menggunakan dasar perhitungan sumber lumpur dari Formasi Kalibeng dan kecepatan semburan yang konstan 100.000 m3/hari. Perbedaan yang mendasar adalah bahwa Davies menggunakan volume sumber air pada reservoir di Formasi Prupuh.

 

Hasil estimasi 23-35, mempunyai kelemahan:

Estimasi yang dihasilkan adalah 23-35 tahun, tapi metoda mereka kemungkinan ada celahnya karena:

  1. 1.Skenario bila sumber lumpur habis, maka erupsi akan berlanjut

Erupsi akan berlanjut setelah sumber lumpur mengalami deplesi (the eruption will continue after the mud source is depleted), jika sumber dari fluida dan overpressure sangat mungkin terpisah dari sumber lumpur.

Catatan:

Dengan konsep bahwa sumber air bertekanan berasal dari karbonat Formasi Prupuh, sehingga bila keseluruhan lumpur di Formasi Kalibeng telah mengalami deplesi, Davies menyatakan semburan masih berlanjut.

 

  1. 2.Asumsi kecepatan semburan konstan:

Metode yang digunakan untuk mengasumsikan kecepatan semburan yang konstan daripada satu diantaranya akan mengalami pengurangan terhadap waktu, sebagaimana yang diperkirakan selama pengurangan tekanan (pressure reduction) dari suatu sumber overpressure cairan fluida.

Catatan:

Davies tidak sepakat penggunaan asumsi kecepatan semburan Lusi yang konstan (100.000 m3/hari), yang secara realitas akan mengalami pengurangan terhadap waktu, sebagaimana umum terhadap fluida dengan tekanan berlebih.

 

DAMPAK

Hasil perhitungan panjang umur Lusi sampai semburan melemah 0,1 MI/hari adalah 26 tahun

50 persentil perkiraan (percentile estimation) untuk panjang umur dari LUSI akan berlangsung 26 tahun untuk semburan mencapai suatu kecepatan kurang dari 0,1 Ml/hari.

Catatan:

Davies menghasilkan perhitungan masa hidup selama 26 tahun, sampai pada suatu keadaan dimana kecepatan semburan kurang dari 0,1MI/hari.

Salah satu rasionalisasi adalah Davies beranggapan bahwa suatu mud volcano sampai memasuki tahap dormant atau sleeping dapat memakan ratusan tahun.

 

Total volume lumpur yang dikeluarkan setelah 26 tahun adalah 0,14 km3

Setelah 26 tahun 50 persentil total volume dari semburan lumpur adalah 0,14 km3.

Total amblesan setelah 26 tahun sebesar 95-475m:

Sebagai tambahan, kecepatan amblesan adalah 1-5 cm/hari (Abidin et al., 2008), total subsidence akan 95-475m.

Catatan:

  1. Perhitungan menggunakan asumsi bahwa kecepatan amblesan 1-5 cm/hari dari perhitungan yang dilakukan pada tahun 2006-2007.
  2. Catatan kecepatan amblesan 5cm/hari terjadi di sekitar pusat semburan dan 1 cm/hari di daerah sekitar daerah terdampak.
  3. Perhitungan kecepatan amblesan pada tahun 2009-2010 dilaporkan Andreas dan Abidin (2010), telah jauh menurun intensitasnya. Hanya berkisar puluhan sentimeter atau desimeter per tahunnya.
  4. Lebih jauh Andreas mengusulkan dua jenis amblesan: Pertama, dengan intensitas yang besar, disekitar pusat semburan, dikaitkan dengan proses pembentukan kaldera (caldera formation); Kedua, dengan intensitas kecil, dikaitkan dengan proses alami terutama faktor pembebanan (loading factor).
  5. Demikian juga hasil perhitungan Bapel BPLS, menunjukkan indikasi adanya kecenderungan penurunan kecepatan amblesan dan realitas fluktuasi, sehingga total subsidence selama 26 tahun yang rasional akan jauh lebih kecil dari kisaran 95-475m.

Analogi dengan Porong-1, amblesan mencapai 400m:

Suatu analogi purba (ancient analogue) yang eksis 6 km di timur Porong, dimana suatu kawah berdiameter 4 km (sekarang diisi sedimen) dapat diamati dari penampang seismik dan mempunyai amblesan sebesar 400 m.

Catatan:

  1. Davies mengilustrasikan keberadaan paleo subsidence dari struktur runtuh (collapse structure) dari sumur Porong-1, yang dihitung berdasarkan penampang seismik refleksi, yaitu sebesar 400m, sehingga memperkuat perhitungan total subsidence setelah masa hidup 26 tahun sebesar 95-475 tersebut di atas, menjadi rasional.
  2. Bila hasil penelitian terbaru dari Andreas dan Abidin (2010) diadopsi, maka angka total subsidence selama 26 tahun yang diusulkan Davies tersebut akan berkurang secara sangat signifikan.
  3. Penyelidikan land displacement, khususnya subsidence dari keseluruhan sistem MV Lusi menjadi sangat strategis, guna perkiraan besarnya dampak selama beberapa tahun ke depan serta mitigasi bencana geologi dan lingkungan hidup.

 

KESIMPULAN

 

Penekanan perkiraan panjang umur Lusi dengan dasar pola pikir bahwa sumber air dan sumber lumpur dari semburan Lusi mud volcano berbeda!

Telah dipresentasikan suatu pendekatan yang rinci untuk memperkirakan panjang umur dari semburan mud volcano, dimana sumber air terpisah dari sumber lumpur.

Catatan:

  1. Pendekatan yang digunakan dalam makalah ini cukup rinci, karena metodelogi, asumsi, konstrain, analogi, parameter, dan hasil perhitungan dengan model matematis ditayangkan.
  2. Kecuali Istadi et al., (2010), selama ini perhitungan rinci terhadap durasi semburan Lusi sangat bersifat umum, hanya perhitungan akhir antara volume versus kecepatan semburan yang ditampilkan.
  3. Hal sangat mendasar/konseptual mencerminkan usulan anatomi dan Pengendali Mekanisme (anatomy and driving force mechanism), yang dianut Davies sejak tahun 2007. Terjadi pemisahan alami antara sumber air di reservoir overpressure dengan sumber lumpur, yang akan mengalami erosi dan percampuran (erosion and mixing). Dalam hal ini sumber air dalam paper adalah karbonat dari Formasi Prupuh (sebelumnya disebut Formasi Kujung), sedangkan lumpur disepakati umum berasal dari Formasi Kalibeng Ata

Penegasan hipotesis bahwa lubang sumur vertical menghubungkan Formasi Prupuh (reservoir air) dan Formasi Kalibeng (sumber lumpur)

Pada makalah ini, perkiraan kemungkinan panjang umur mud volcano Lusi dikembangkan berdasarkan kepada hipotesis yang eksis terhadap suatu lubang sumur vertikal yang dibor langsung diatas atau di dalam dari Formasi Prupuh, sehingga terdapat hubungan langsung antara sumber air overpressure di Formasi Prupuh dengan sumber lumpur di batulempung Formasi Kalibeng Atas.

 

Catatan:

Penekanan hipotesis yang tidak terlepas dari aspek pengendali mekanisme semburan Lusi (Lusi eruption driving force mechanism), bahwa sumur pemboran yang vertikal menghubungkan langsung antara reservoir air overpressure di batugamping Formasi Prupuh dan sumber lumpur (Formasi Kalibeng Atas). Hal ini ditekankan karena Mazzini dkk., 2007 & 2009 berpendapat bahwa air dan lumpur terutama berasal dari Formasi Kalibeng Atas, melalui proses transformasi mineral ilit ke smektit.

Waktu yang dibutuhkan semburan Lusi berkurang sampai 0,1 Ml/hari lebih dari 26 tahun.

Menerapkan analisis untuk MV LUSI dianggap bahwa waktu yang dibutuhkan aliran untuk berkurang sampai intensitas kurang dari 0,1 MI/hari tampaknya lebih dari 26 tahun.

Catatan:

  1. Kurun waktu 26 tahun yang dimaksudkan sampai pada titik ambang yaitu 0,1 Ml/hari, bukan menjadi 0 liter/hari.
  2. Davies dalam paper dan press release menggambarkan bahwa secara alami, ketika semburan mud volcano sudah lemah (weak flow) atau masuk ke dormancy stage, maka untuk berhenti total bisa memerlukan waktu ratusan tahun!
  3. Sebagai catatan bahwa berdasarkan pendekatan ‘tekanan’ maka semburan suatu mud volcano dimaknai akan berhenti bila tekanan berlebih (overpressure) di reservoir telah sama atau mendekati hydrostatic pressure.

Pernyataan yang cukup menakutkan bahwa selama 26 tahun tersebut (2037) total amblesan di permukaan tanah antara 95-475 m dan total volume 0,14 km3

Selama waktu ini permukaan tanah diperkirakan akan mengalami amblesan sebesar 95-475 m dan total volume lumpur tampaknya akan lebih dari 0,14 km3.

Catatan:

  1. Total land subsidence selama 26 tahun sebesar 95-475 m, berdasarkan hasil perhitungan kecepatan amblesan (subsidence rate) dari Abidin et al (2008), berkisar antara 1-5 cm/hari. Kecepatan subsidence tersebut dianggap rata (flat), 1 cm di bagian tepian dari daerah terdampak dan 5cm/hari di sekitar Pusat semburan.
  2. Davies sebagaimana Abidin memegang teori bahwa konsekuensi dari intensitas semburan Lusi yang paling besar di seluruh dunia, akan berlanjut efek loading dibarengi dengan ‘sudden collapse’. Hanya Abidin et al., 2008 dan Tingay (2010) dan tentunya Mazzini et al., (2007 & 2010) yang memasukkan pengaruh dari reaktivasi Patahan Watukosek.
  3. Davis dalam menggunakan parameter kecepatan amblesan yang mengadopsi hasil dari Abidin et al (2008) m, namun mengabaikan hasil dari Andreas dan Abidin (2010), yang menyatakan bahwa kecepatan amblesan pada tahun 2009-2010 telah menurun sangat signifikan dari angka yang umum digunakan selama ini (Abidin et al., 2008), menjadi berkisar hanya puluhan sentimeter atau desimeter per tahunnya!
  4. Sebagai realitas, Andreas menekankan bahwa land displacement saat ini terutama dipengaruhi oleh proses pembentukan kaldera (caldera formation), sehingga pola deformasinya adalah radial (termasuk subsidence, rekahan, dan patahan), serta menambahkan bahwa Lusi mud volcano sedang dalam reorganisasi sendiri (self reorganization). Bukti nyata di lapangan menunjukkan longsoran, tumbukan, subduksi, dan perubahan morfologi suatu kerucut (cone) menjadi kubah landai (smooth dome).
  5. Alat perang Bapel BPLS (GPS, geodetic) harus dapat menempatkan bukti lapangan (sebagaimana laporan bulanan) bahwa kecepatan amblesan di lapangan lebih kecil dari yang digunakan oleh pakar mengacu Abidin (2008) yaitu 1-5 cm/hari. Sebagai exercise maka untuk merespon hasil Davis, dengan asumsi bahwa rate subsidence tetap, maka angka Bapel BPLS dikalikan dengan 26 tahun. Kerjasama Bapel BPLS dengan ITB, seyogyanya dapat mengklarifikasi angka rate of subsidence per hari dan total dari presentasi Andreas (2010) di Australia, termasuk bila ada data baru.
  6. Angka deformasi berbasis ilmiah mempunyai implikasi sosial, politik dan kebijakan, karena terkait langsung/tidak dengan perspektif penanganan kebencanaan Lusi mud volcano ke depan, termasuk di dalamnya ‘rasionalisasi’ untuk meyakinkan penetapan Trase Relokasi Infrastruktur, jalan nasional, JALAN TOL, dan REL KA.

 

Referensi (berdasarkan naskah asli)

Abidin, H.Z., Davies, R.J., Kusuma, M.A., Andreas, H. & Deguchi, T. 2008. Subsidence and uplift of Sidoarjo (East Java) due to the eruption of the LUSI mud volcano (2006–present). Environonmental Geology, 57, 833–844. doi:10.1007/s00254-008-1363-4.


Batzle, M. & Wang, Z. 1992. Seismic properties of pore fluids. Geophysics, 57, 1396–1408.


Bristow, C.R., Gale, I.N., Fellman, E., Cox, B.M., Wilkinson, I.P. & Riding, J.B. 2000. The lithostratigraphy, biostratigraphy and hydrogeological significance of the mud springs at Templars Firs, Wootton Bassett, Wiltshire.


Proceedings of the Geologist’s Association, 111, 231–245, doi:10.1016/ S0016-7878(00)80016-4.

Chen, Z., Huan, G. & Ma, Y. 2006. Computational Methods for Multiphase Flows in Porous Media. Society for Industrial and Applied Mathematics, Philadelphia, PA.


Davies, R.J. & Stewart, S.A. 2005. Emplacement of giant mud volcanoes in the South Caspian Basin: 3D seismic reflection imaging of their root zones. Journal of the Geological Society, London, 162, 1–4, doi:10.1144/0016- 764904-082.


Davies, R.J., Swarbrick, R.E., Evans, R.J. & Huuse, M. 2007. Birth of a mud volcano: East Java, 29 May 2006. GSA Today, 17, 4–9.


Davies, R.J., Brumm, M., Manga, M., Rubiandini, R., Swarbrick, R. & Tingay, M. 2008. The East Java mud volcano (2006 to present): An earthquake or drilling trigger? Earth and Planetary Science Letters, 272, 627–638, doi:10.1016/j.epsl.2008.05.029.


Davies, R.J., Manga, M., Tingay, M., Lusianga, S. & Swarbrick, R. 2010. The LUSI mud volcano controversy: Was it caused by drilling? Discussion. Marine and Petroleum Geology (in press).


Deville, E. & Guerlais, S.H. 2009. Cyclic activity of mud volcanoes: Evidences from Trinidad (SE Caribbean). Marine and Petroleum Geology, 26, 1681– 1691.


Deville, E., Guerlais, S.-H., Lallemant, S. & Schneider, F. 2010. Fluid dynamics and subsurface sediment mobilization processes: an overview from Southeast Caribbean. Basin Research, 22, 361–379.


Fell, R., Wan, C.F., Cyganiewicz, J. & Foster, M. 2003. Time for development of internal erosion and piping in embankment dams. Journal of Geotechnical and Geoenvironmental Engineering, 129, 307–314.


Istadi, B.P., Pramono, G.H., Sumintadireja, P. & Alam, S. 2009. Modeling study of growth and potential geohazard for LUSI mud volcano: East Java, Indonesia. Marine and Petroleum Geology, 26, 1724–1739, doi:10.1016/ j.marpetgeo.2009.03.006.


Jianhua, L., Chao, Z., Jinxiang, L., Rosenberg, S., Hillis, K., Utama, B. & Gala, D.M. 2010. Use of liner drilling technology as a solution to hole instability and loss intervals: a case study of offshore Indonesia. SPE Drilling and Completion.


Kopf, A., Dehyle, A., et al. 2003. Isotopic evidence (He, B, C) for deep fluid and mud mobilization from mud volcanoes in the Caucasus continental collision zone. International Journal of Earth Sciences, 92, 407–425.


Kusumastuti, A., Van Rensbergen, P. & Warren, J.K. 2002. Seismic sequence analysis and reservoir potential of drowned Miocene carbonate platforms in the Madura Strait, East Java, Indonesia. AAPG Bulletin, 86, 213–232, doi:10.1306/61EEDA94-173E-11D7-8645000102C1865D.


Mazzini, A., Svensen, H., Akhmanov, G.G., Aloisi, G., Planke, S., Malthe Sørenssen, A. & Istadi, B. 2007. Triggering and dynamic evolution of LUSI mud volcano, Indonesia. Earth and Planetary Science Letters, 261, 375–388, doi:10.1016/j.epsl.2007.07.001.


Murton, B.J. & Biggs, J. 2003. Numerical modelling of mud volcanoes and their flows using constraints from the Gulf of Cadiz. Marine Geology, 195, 223– 236, doi:10.1016/S0025-3227(02)00690-4.


Papadopulos, I.S. & Cooper, H.H., Jr 1967. Drawdown in a well of large diameter. Water Resources Research, 3, 241–244, doi:10.1029/ WR003i001p00241.


Revil, A. 2002. Genesis of mud volcanoes in sedimentary basins: A solitary wave based mechanism. Geophysical Research Letters, 29, 1574, doi:10.1029/ 2001GL014465.


Sawolo, N., Sutriono, E., Istadi, B.P. & Darmoyo, A.B. 2009. The LUSI mud volcano triggering controversy: Was it caused by drilling? Marine and Petroleum Geology, 26, 1724–1739, doi:10.1016/j.marpetgeo.2009.04.002.


Sawolo, N., Sutriono, E., Istadi, B.P. & Darmoyo, A.B. 2010. The LUSI mud volcano triggering controversy: Was it caused by drilling? Reply. Marine and Petroleum Geology (in press).


Stehfest, H. 1970. Algorithm 368: Numerical inversion of Laplace transforms (D5). Communications of Association for Computing Machinery, 13, 47–49, doi:10.1145/361953.361969.


Tanikawa, W., Sakaguchi, M., Wibowo, H.T., Shimamoto, T. & Tadai, O. 2010. Fluid transport properties and estimation of overpressure at the Lusi mud volcano, East Java Basin. Engineering Geology, 116, 73–85.


Tingay, M. 2010. Anatomy of the ‘Lusi’ mud eruption, East Java. Australian Society of Exploration Geophysicists, Extended Abstracts, 1, 1–6, doi:10.1071/ASEG2010ab241.


Valko, P.P. & Abate, J. 2004. Comparison of sequence accelerators for the Gaver method of numerical Laplace transform inversion. Computational and Applied Mathematics, 48, 629–636, doi:10.1016/j.camwa.2002.10.017.

Van Everdingen, A.F. & Hurst, W. 1949. The application of the Laplace transformation to flow problems in reservoirs. Transactions of the American Institute of Mining Engineers, 186, 305–324.


Wylie, E.B. & Streeter, V.L. 1978. Fluid Transients. McGraw–Hill, New York.


Yang, Y. & Aplin, A.C. 2010. A permeability–porosity relationship for mudstones. Marine and Petroleum Geology (in press), doi:10.1016/j.marpetgeo.2009.07.001.


Zoporowski, A. & Miller, S.A. 2009. Modelling eruption cycles and decay of mud volcanoes. Marine and Petroleum Geology, 26, 1879–1887, doi:10.1016/ j.marpetgeo.2009.03.003.