Kegiatan

Pembangunan Tanggul untuk Penahan Luapan Lumpur
Kegiatan penanganan luapan lumpur terutama berupa pekerjaan pembuatan tanggul, yang meliputi pengadaan material, pengangkutan, penghamparan dan pemadatan material timbunan yang dilaksanakan di atas permukaan yang telah disiapkan.

Material dari borrow area yang sesuai untuk bahan timbunan dapat langsung diangkut ke lokasi timbunan atau ditempatkan di stock pile.

Pemadatan material timbunan dilakukan dengan cara yang berurutan, lapis perlapis (layer by layer) dan masing-masing lapisan dipadatkan sesuai dengan persyaratan.Pemadatan dilakukan dengan menggunakan peralatan pemadatan yang sesuai untuk memperoleh kepadatan yang diperlukan.Pelaksanaannya sesuai dengan rencana as tanggul, kecuali pada lokasi berputarnya alat pemadat atau di lokasi yang berdekatan dengan bangunan. Tipe peralatan yang dipakai untuk pemadatan material timbunan ditentukan berdasarkan hasil uji timbunan di lapangan.

Material timbunan tanggul adalah tanah jenis lempung kepasiran yang disyaratkan sebagai berikut:

  • Gradasi material timbunan adalah diameter maksimum 30 cm dengan jumlah maksimum 5% dari berat masa material timbunan. Prosentase butiran yang lolos saringan No200 (0,074 mm) lebih besar dari 20% dan lebih kecil dari 60% dari berat masa material timbunan. Prosentase butiran yang lolos saringan No4 (4,76 mm) lebih besar dari 50% dan lebih kecil dari 90% dari berat masa material timbunan

  • Material timbunan dari jenis plastisitas menengah.

  • Berat volume kering maksimum material timbunan lebih besar dari 1,30 ton/m3.

  • Berat volume kering di lapangan adalah 85% dari berat volume kering maksimum menurut Standard Proctor.

  • Rentang kadar air material timbunan dilapangan ± 3% dari kadar air optimum (optimum moisture content).

  • Sebelum melaksanakan pekerjaan timbunan, diwajibkan melaksanakan pengujian material yang akan dilakukan di laboratorium.

Lapisan timbunan yang ditempatkan pada permukaan tanah dasar atau pondasi yang tidak pada genangan lumpur, maka tanah dasar tersebut dibuat rata, bersih dan padat sesuai persyaratan.

Lapisan timbunan yang ditempatkan pada timbunan tanggul yang lama, maka permukaan tanggul lama dikasarkan dan dikupas terlebih dahulu. Bila ada tanaman, retakan, longsoran dan kerusakan pada permukaan tanggul lama, maka kerusakan diperbaiki terlebih dahulu.

Pada tempat yang telah disediakan untuk pekerjaan timbunan tanggul, harus disiapkan lokasi sekurang-kurangnya 100 m ke depan dari penempatan lapisan timbunan. Untuk perbaikan tanggul lama, seluruh formasi itu harus disiapkan sebelum lapisan timbunan baru ditempatkan.

Pada kasus timbunan pada genangan lumpur lunak, dan alat berat maupun tenaga manusia tidak dapat melakukan penyiapan pondasi, maka penyiapan pondasi dilaksanakan semampu mungkin alat bisa melakukannya.

• Penghamparan

Pada kasus timbunan pada genangan lumpur cair, maka penghamparan material dilakukan dengan cara menyisihkan lapisan lumpur terlebih dahulu dengan mendorong tumpukan material timbunan menggunakan backhoe bucket atau bulldozer sehingga mencapai dasar pondasi. Selanjutnya, apabila lapis timbunan sudah mencapai bagian atas permukaan lumpur dapat dilaksanakan seperti penghamparan biasa.

Pada lokasi timbunan bebas dari lumpur, lapisan material dihampar di tempat timbunan dengan merata. Tebal maksimum lapisan tidak boleh melebihi 60 cm atau sesuai dengan ketentuan dari hasil uji coba timbunan dengan toleransi 5 cm sebelum dipadatkan. Kelembaban dalam material timbunan tersebar secara merata dengan rentang kadar air yang disyaratkan.

Batu dengan dimensi yang lebih besar dari 30 cm dibuang dari lokasi pekerjaan. Material dihampar pada elevasi permukaan yang rata sehingga menghasilkan tebal padat yang diperlukan dalam toleransi yang disyaratkan.

Lapisan dihampar dan dibentuk dengan metode yang telah disetujui dan yang tidak menyebabkan pemisahan partikel agregat kasar dan partikel agregat halus (segregasi). Material yang tersegregasi diperbaiki atau dibuang dan diganti dengan bahan yang bergradasi baik.

kegiatan pengangan infra

Lebar penghamparan di bagian tepi tanggul harus ditambahkan minimal 0,50 m dengan pertimbangan bagian tepi tanggul yang sebenarnya, akan dapat padat sesuai persyaratan. Pada akhir pemadatan, kelebihan lebar 0,50 m ini dipotong kembali sesuai dengan dimensi tanggul.

•  Pemadatan

Pada lokasi genangan lumpur, dimana alat pemadat dan tenaga manusia tidak dapat melaksanakan pemadatan, maka material timbunan didorong sedikit demi sedikit dengan backhoe atau bulldozer ke arah lumpur sampai menumpuk di atas permukaan lumpur. Apabila material timbunan telah mencapai elevasi di atas permukaan lumpur, maka pemadatan dapat dilakukan sesuai dengan persyaratan.

Pada lokasi yang bebas dari genangan lumpur, segera setelah penghamparan, masing-masing lapis harus dipadatkan dengan peralatan pemadatan yang sesuai dengan jumlah lintasan yang memadai hingga kepadatan paling sedikit mencapai 85% kepadatan kering maksimum menurut standard proctor.

Pemadatan dilakukan hanya apabila kadar air dari material timbunan berada dalam rentang ± 3% dari kadar air optimum.

kegiatan pengangan infra1

Pemadatan dimulai dalam arah memanjang, sepanjang tepi dan bergerak sedikit demi sedikit ke arah sumbu tanggul. Pemadatan dilanjutkan sampai seluruh permukaan menjadi rata dan padat. Overlap antara bagian yang sudah padat dan bagian yang belum padat adalah 30 cm.

•  Perapihan Puncak dan Lereng Tanggul
Kemiringan tanggul dipotong dan dirapikan dengan kemiringan/slope. Dimensi akhir harus sesuai dengan gambar.

Progres pekerjaan dan kondisi tanggul sampai dengan akhir bulan April 2014

Sampai dengan akhir tahun 2009, pekerjaan yang telah diselesaikan adalah terbangunnya tanggul luar sepanjang 18.776 m dengan elevasi tanggul yang masih bervariasi antara +6,00 m dan +11,00 m. Elevasi tanggul belum dapat dicapai sampai +11,00 m karena seringnya terjadi deformasi geologi yang menyebabkan penurunan/amblesan tanggul.

Pekerjaan yang dilaksanakan pada Tahun 2010 antara lain adalah pembuatan tanggul darurat P69 – P73A (P69 ke Tanggul Kedungbendo yang belum tersambung). Pada awal Januari 2010, lumpur terpaksa dialirkan ke utara melalui spillway di P70+150, karena tinggi jagaan tanggul P71 – P10D sudah sangat kritis sehingga untuk menjaga agar lumpur tidak luber melewati PAT, maka pembangunan tanggul ini tetap dilaksanakan. Tanggul sepanjang 500 m sehingga mencapai elevasi +4,35 m. Tanggul direncanakan sebagai tanggul darurat dengan ukuran lebar tapak 13,00 m, kemiringan tebing tanggul 1 : 1,25, tinggi tanggul + 2,75 m dan lebar puncak tanggul 8,00 m.

Pembangunan lain yang dilaksanakan adalah pembangunan sebagian tanggul yang terletak di wilayah Tiga Desa (Pejarakan – Kedungcangkring – Besuki) bagian selatan (P36 – P97 – P98 – P99 – P92) di lokasi P98 – P97 yang berada di Desa Kedungcangkring. Pembangunan ini direncanakan untuk memudahkan pengaliran lumpur dari kolam penampung lumpur ke Kali Porong atau untuk sementara digunakan sebagai tampungan air pengencer lumpur sehingga mudah untuk dibuang ke Kali Porong. Pelaksanaan dilakukan serentak bersamaan dengan pembongkaran rumah/bangunan milik warga yang telah menerima uang jual beli lahan/rumah/bangunan mereka dari BPLS.

Pada bulan Januari dan Pebruari 2010, dilakukan penambahan tinggi timbunan tanggul eks. PerumTAS-1 di lokasi P67 – P69 dan P79 – P77 serta counterweight di bagian sisi luar untuk menambah stabilitas tanggul karena adanya amblesan dan tekanan lumpur dari kolam lumpur. Pada Tanggul P67 – P68 (A56 – A25) peninggian tanggul dilaksanakan hingga ketinggian timbunan tanggul rata-rata mencapai elevasi +9,50 m. Di lokasi tanggul P71 – P70A, dengan waktu yang sangat pendek karena ada batasan waktu dari warga, peninggian tanggul dapat dilaksanakan sampai elevasi +11,00 m.

Di lokasi tanggul P21 – 10D – P71 (Siring – Osaka), peninggian dilaksanakan untuk menjaga tinggi jagaan luapan lumpur agar berada dalam kondisi aman. Amblesan yang terus-menerus terjadi dan peningkatan elevasi muka lumpur di kolam lumpur menyebabkan tinggi jagaan pada akhir bulan Januari 2010 berada dalam kondisi Siaga Merah. Pada bulan Juli 2010 dilaksanakan kembali peninggian Tanggul Siring di lokasi antara P21 – P10D – P71 (KS38 – KS8 – KR0 – KR19) sepanjang 1.287,40 m dengan tinggi timbunan rata-rata 1,00 m untuk mencapai elevasi +10,50 m. Pekerjaan peninggian tanggul dikerjakan untuk menjaga waking minimal 2,00 m.

Perkerjaan peninggian Tanggul Jatirejo (P21 – P31) dimulai kembali sejak tanggal 6 Agustus 2010 yaitu setelah terjadinya overtopping (meluapnya) air dan lumpur di titik P21. Peninggian dilaksanakan sampai dengan elevasi +11,00 m dan diperkuat dengan bronjong pada sisi luar tanggul.

Pada Tahun 2011, pekerjaan pembuatan/perbaikan/penyempurnaan tanggul pengaman luapan lumpur yang dilaksanakan oleh Bapel – BPLS antara lain adalah perbaikan Tanggul P79 – P82 yang ambles pada tanggal 23 Desember 2010. Pekerjaan ini dilakukan secara bertahap baik vertikal maupun horizontal. Pada minggu kedua bulan April 2011 juga dilaksanakan pekerjaan perbaikan overflow di P81.

Setelah pada bulan Desember 2010 dilaksanakan peninggian muka tanggul dan counterweight-nya sehingga puncak tanggul P71 – P10D – P21 mencapai elevasi rata - rata +11,50 m, maka pada bulan Januari sampai dengan Mei 2011 secara bertahap dilaksanakan pekerjaan perapian timbunan tanggul di lokasi tersebut dan pemasangan gebalan rumput di tebing tanggul.

Kondisi lapangan pembangunan tanggul Tiga Desa (P36 – P97 – P98 – P99 – P92) pada awal bulan April 2011 masih sama dengan kondisi akhir bulan Desember 2010. Hal ini disebabkan oleh karena kegiatan di lapangan dihentikan oleh beberapa warga Desa Besuki yang masih mempunyai masalah jual beli tanah terkait dengan status tanah.

Di sisi utara, karena amblesan yang terus menerus terjadi di lokasi ex tanggul PerumTAS-1 dan elevasi muka lumpur yang makin bertambah, maka pada bulan Pebruari 2011 dilakukan lagi peninggian tanggul P66 – P69 sehingga puncak tanggul rata-rata mencapai elevasi +10,00 m.

Oleh karena puncak tanggul juga akan digunakan sebagai jalan internal untuk inspeksi dan mobilisasi peralatan, maka di atas puncak tanggul dilakukan perawatan dan perkuatan yang memadai. Konstruksi jalan inspeksi terdiri dari timbunan lapis pondasi bawah (Agregat Klas B) dengan tebal 30 cm dan diameter butiran kurang dari 30 mm. Lebar jalan inspeksi adalah 5,00 m termasuk bahu jalan di kanan kiri, masing-masing selebar 1,00 m. Bahu jalan dibuat dari timbunan tanah yang dipadatkan dan dipasang gebalan rumput di atasnya.

Walaupun intensitas semburan telah mengalami penurunan, namun ancaman luapan lumpur masih cukup besar akibat adanya fenomena gunung lumpur yang telah beberapa kali mengalami longsoran lereng dan mengarah ke berbagai lokasi di mana tanggul luapan lumpur berada.

Pada awal bulan September 2011, longsoran gunung lumpur ditenggarai telah menekan beberapa ruas badan tanggul. Longsoran yang paling diwaspadai oleh Bapel – BPLS adalah longsoran yang mengarah ke arah tanggul barat (Siring). Tanggul ini digunakan untuk melindungi permukiman di Siring Barat, jalan arteri Porong dan jalan kereta api. 

Pada pagi hari Kamis 15 September 2011 sekitar jam 8:59 pagi, kembali terjadi longsoran gunung lumpur sehingga endapan lumpur bergerak dan menyentuh tanggul di lokasi P10D sepanjang +50 meter dan mengancam stabilitas tanggul P10D – P21. Dalam kondisi demikian, BPLS menyatakan Tanggul Siring dalam Status Siaga Untuk Bahaya Luapan Lumpur. Upaya tindakan darurat adalah membuat lubang/memotong tanggul utara eks PerumTAS-1 di lokasi P69+10 – P69+50 dan P70 – P70+50 sedemikian rupa sehingga tekanan lumpur ke barat dapat dikurangi atau bisa digeser, yang semula ke arah barat menjadi ke arah utara. Material galian digunakan untuk menambah elevasi tanggul di lokasi P10D ke selatan. Pemotongan tanggul dilaksanakan mulai pukul 19:00.

Pada 30 September 2011 pekerjaan peninggian dan pelebaran tanggul P10D ke selatan (KS8 - KS37) dengan menambah tinggi tanggul sekitar 1 meter sepanjang 725 meter telah selesai dikerjakan dan elevasi puncak tanggul kembali menjadi +12,00 meter. Pemotongan tanggul di lokasi P69+10 – P69+50 dan P70 – P70+50 telah berhasil dilaksanakan dan dapat mengurangi tekanan lumpur basah ke arah barat. Peninggian diikuti dengan pengamanan puncak Tanggul Siring P10D ke selatan (KS8 – KS37) yang dilakukan pada bulan Oktober 2011 dengan pemasangan sesek bambu, geotekstil dan sand jumbo bag untuk perkuatan.

Bersamaan dilaksanakannya pekerjaan pengamanan tanggul Siring dengan menggeser alur air/lumpur sehingga tidak mendekatitanggul, dilakukan juga pekerjaan peninggian tanggul Siring di lokasi P10D – P21 sehingga mencapai elevasi +12,30 m.

Pada bulan Desember 2011, pekerjaan pembuatan tanggul penahan luapan lumpur telah dapat diselesaikan, kecuali pias P73A – P74 – P75 – P75A yang terletak di desa Kedungbendo karena masih terkendala dengan permasalahan sosial (lahan untuk tapak tanggul belum bebas).

Kendala ini masih belum diselesaikan, padahal kondisi tanggul eks PerumTAS-1 (P75A – P66 – P68 – P69 – P70) sudah tidak dapat dipertahankan untuk menahan luapan lumpur karena tanggul dititik P66 – P68 telah putus sehingga lumpur dan air rawan mengalir masuk ke wilayah Desa Kedungbendo dan masuk ke Kali Ketapang karena Kolam Ketapang belum dibentuk.

 

kegiatan pengangan infra2

 

Pembangunan Kolam Kedungcangkring – Besuki Dalam (Kebes Dalam) P36 – P96 – P92 – P90 – P42 dan Kebes Luar P36 – P98 – P99 – P92 dimaksudkan untuk menampung lumpur sebelum dibuang ke laut melalui Kali Porong. Sampai Maret 2013  kedua kolam tersebut belum dimanfaatkan karena lumpur masih dapat dikelola dengan mengalirkan lumpur langsung dari kolam utama menggunakan kapal keruk dan booster. Kolam Kebes Dalam sementara digunakan untuk menampung air injeksi operasi kapal keruk pada musim kemarau. Kolam Kebes Luar belum dapat dimanfaatkan karena masih ada permasalahan jual – beli tanah yang berada di dalam kolam.

Kondisi tanggul penahan luapan lumpur pada 31 Maret 2014 dapat dilihat melalui foto-foto berikut:

 

Kegiatan PLL1 2014

Kegiatan PLL2 2014

Kegiatan PLL3 2014

Pemasangan Perkuatan Bronjong Di Kaki Tanggul

  • Bronjong Sisi Timur (Glagaharum)

Pelaksanaan pemasangan bronjong di lokasi P83 – P89/P42sepanjang 1.386 m dimulai pada tanggal 9 Agustus 2010 sampai dengan 20 Desember 2010:

Kegiatan PLL4 2014

 

  • Bronjong Sisi Barat (Osaka – Siring, Osaka – Ketapangkeres dan Jatirejo)

Pemasangan bronjong di Tanggul Osaka – Siring

Pemasangan bronjong Tanggul Osaka – Siring dilaksanakan di lokasi P71 – P10D – P21 dimulai pada bulan September 2010.Sampai dengan akhir bulan Desember 2010 telah selesai sampai dengan elevasi +7,00 m.Pada bulan April 2011, pemasangan bronjong di tanggul Osaka – Siring telah selesai seluruhnya.
Kegiatan PLL5 2014
 
Kegiatan PLL6 2014
 
− Pekerjaan Bronjong di Tanggul Osaka – Ketapangkeres
Pekerjaan Bronjong Tanggul Osaka - Ketapangkeres (P71 – P73) sepanjang 600 m terdiri dari perkuatan counterweight 1 sampai dengan elevasi +5,00 m dan perkuatan counterweight 2 pada elevasi +5,00 m sampai dengan +8,00 m.
kegiatan PLL11
kegiatan PLL12
 
− Pekerjaan bronjong di Tanggul Jatirejo (P21 – P32)
Pemasangan bronjong dilaksanakan setebal 4 (empat) lapis dengan rincian panjang bervariasi dari 125,00 m di Lapis 3 sampai 400,00 m di Lapis 1.
kegiatan PLL13
 
 
kegiatan PLL14
 
− Pekerjaan bronjong di kaki tanggul opritan jalan masuk ke P21
Pada bulan Desember 2010 dipasang konstruksi bronjong di kaki tanggul untuk memperkuat opritan jalan masuk ke P21.
kegiatan PLL15
  • Pelaksanaan Pemasangan Bronjong Sisi Selatan (Mindi)
Pekerjaan yang telah diselesaikan sampai dengan akhir bulan Desember 2010: P32 – P33 sampai dengan elevasi +7,00 m, P33 – P34 sampai dengan elevasi +7,50 m, dan P34 – P35 dengan elevasi bervariasi dari +4,50 m , +6,00 m , dan +8,00 m.
Kegiatan PLL7 2014
Progres tanggul penahan luapan lumpur dan perkuatan bronjong sampai dengan akhir 31 Maret 2014:
kegiatan PLL17