Operasi Penanganan Luapan

Dipublikasikan tanggal .

 

Dalam kegiatan penanggulangan luapan ke Kali Porong, Bidang Operasi BPLS mempunyai tugas melakukan perencanaan, koordinasi, pengendalian dan evaluasi operasi penanggulangan semburan dan penanganan luapan lumpur dari pusat semburan sampai ke Kali Porong yang dilaksanakan oleh Lapindo Brantas Inc.

Di dalam penanganan luapan lumpur, operasi teknis dilakukan dengan cara membuat kanal/saluran ke arah Selatan dengan dibantu pengayuhan lumpur menggunakan alat berat mengalirkan lumpur menuju area pompa yang berada di bagian Selatan kolam (pond), yang kemudian dipompa ke Kali Porong menggunakan pompa-pompa lumpur langsung dari kolam (Pond).

Sampai saat ini pompa-pompa utama yang digunakan untuk memompa lumpur adalah pompa yang memang dirancang untuk memompa lumpur. Walaupun begitu karakteristik lumpur yang sangat pekat dan berat menyebabkan masih diperlukannya sarana pendukung lainnya, yaitu pompa-pompa air yang digunakan sebagai pemasok air ke dalam pond utama, agar lumpur lebih encer dan beban pompa lumpur menjadi lebih ringan. Selain itu lumpur dengan suhu tinggi (panas) juga menjadi faktor penghambat kinerja pompa.

Selain masalah pompa, faktor land subsidence juga mempunyai pengaruh yang sangat besar terhadap keberhasilan operasi pengaliran lumpur ini. Apalagi area yang mempunyai tingkat penurunan tanah (rate of subsidence) paling tinggi justru berada di sekitar pusat semburan. Sementara di sisi lain pengaliran lumpur ini sangat memerlukan kondisi kemiringan profil kanal yang signifikan. Oleh karena itu area dengan rate of subsidence yang tinggi tersebut menyebabkan aliran berbalik arah dari tujuan semula (Kali Porong).

Ilustrasi dibawah ini menggambarkan dinamisnya situasi yang dihadapi dalam penanganan luapan lumpur, dimana faktor alam maupun tingkat produktifitas alat bisa menjadi penyebab strategi pengelolaan aliran lumpur yang selalu berubah. Atau dengan kata lain pompa-pompa sebagai alat utama untuk menangani luapan lumpur ini tidak bisa difokuskan pada satu tempat saja, sehingga pompa-pompa lumpur akan selalu berpindah posisi menyesuaikan perkembangan situasi yang ada.

{swfremote}http://kopijun.net/img/luapan.swf|600|400{/swfremote}

Ilustrasi Mekanisme Pengaliran Lumpur dari Pusat Semburan menuju Kali Porong(Selatan)

 

Situasi Pertama : Pengaliran Lumpur menuju Kali Porong Melalui Pond Intake
Pada situasi ini jarak antara pusat semburan dengan kali Porong adalah paling pendek, tetapi rate of subsidence yang ada pada area pusat semburan menyebabkan operasi pengaliran sering terganggu sehingga aliran lumpur yang seharusnya ke arah Selatan berubah menuju Utara.

 

Situasi Kedua : Pengaliran Lumpur menuju Kali Porong Melalui P.41
Pada situasi ini jarak antara pusat semburan dengan kali Porong lebih jauh dari kondisi pertama. Akan tetapi perkembangan situasi yang ada menyebabkan tidak mungkinnya untuk menghindari kondisi ini. Menurunnya kinerja pompa di Intake ditambah lagi rate of subsidence, membentuk profil muka lumpur di dalam kolam utama (topografi) miring ke arah Timur, yang kemudian situasi dimanfaatkan untuk membuat kanal di sepanjang sisi Timur Kolam Utama untuk mengalirkan lumpur menuju P.41.

 

Situasi Ketiga : Pengaliran Lumpur menuju Kali Porong Melalui P.43
Situasi ini adalah kondisi yang menunjukkan masalah operasi pengaliran lumpur yang semakin berat. Efisiensi pompa lumpur dan supply material tanah untuk menjaga elevasi puncak tanggul cincin menurun, menyebabkan lumpur semakin sulit untuk diarahkan menuju area pompa yang berada di kolam utama bagian Selatan. Sehingga pompa dimobilisasi mendekati pusat semburan.

 

Situasi Keempat : Pengaliran Lumpur menuju Kali Porong Melalui P.42
Situasi ini adalah kondisi operasi pengaliran lumpur dalam status darurat, dimana aliran sudah tidak bisa diarahkan menuju Selatan Kolam, sehingga aliran lumpur dari Pusat semburan mengalir ke arah Utara (keluar dari tanggul cincin), yang kemudian menyebar ke arah Barat (Siring) dan Timur (Renokenongo). Dalam status ini, pompa yang bertugas memompa Lumpur adalah Booster Pump, yang ditempatkan di P.42. Apabila booster ini dapat dipertahankan kinerjanya, diharapkan elevasi rendah di area Timur dapat terjaga, sehingga ancaman area Barat (jalan raya Porong) dapat diminimalisir.

 

Untuk menghadapi situasi yang ada, Bidang Operasi BAPEL-BPLS selalu memantau perkembangan yang terjadi di lapangan. Pemantauan dilakukan dari segala aspek meliputi monitoring data pengukuran ketinggian tanggul, ketinggian elevasi muka lumpur terhadap tanggul, monitoring kinerja pompa dan juga melakukan dokumentasi foto-foto lapangan. Gambar citra satelit berikut dapat menunjukkan beberapa perkembangan situasi lapangan berdasarkan dokumentasi foto yang dibuat dalam kegiatan monitoring.

 

Sumber Citra : http://www.crisp.nus.edu.sg/coverages/mudflow/index_IK_p33.html
Untuk melihat area kerja dari foto-foto situasi lapangan, klik masing-masing spot yang dibatasi kotak merah