Usaha-usaha Penghentian Semburan

Kronologi
Re-entry Well dengan memakai Snubbing Unit
Re-entry Well memakai PDSI rig
Monitoring well memakai Century #24 Rig (Side tracking oil well?)
Relief Well - 1 (RW-1) memakai Rig Century-24
Relief Well RW#2 memakai Rig PDSI #1
High Density Chained Ball
Pelajaran yang dipetik dari pengalaman pengeboran relief wells
Penanggulangan Semburan yang Dilakukan BPLS

Kronologi

Pada mulanya, hampir semua pihak meyakini bahwa yang terjadi adalah suatu underground blowout. Belakangan dengan semakin banyak ahli yang melakukan penelitian, terbukti bahwa hipotesa underground blowout banyak kelemahannya dan tidak terbukti kebenarannya. Ini semua karena kurangnya data dan analisis yang salah pada minggu minggu pertama sesudah kejadian, sehingga penanganan untuk 'membunuh' semburan lumpur pun tidak benar.

Upaya untuk menutup semburan sudah dilakukan secara maksimal dilakukan oleh Lapindo bersama dengan BPMIGAS, TimNas dan BPPLS. SEtidaknya sudah empat metoda dijalankan untuk menutup semburan. Pertama, dengan menggunakan metoda snubbing unit (re-entry well). Kedua, side tracking oil well. Ketiga, relief well , dan cara keempat dengan menggunakan high densitry chained balls (HDCB).

Pada minggu pertama sesudah terjadinya semburan lumpur, BPMIGAS dan Lapindo-Brantas Inc. (LBI), membuat strategi penanganan pasca semburan lumpur. Asumsinya adalah telah terjadi underground blowout sehingga diperlukan satu atau lebih relief well untuk dapat dipompakan kill fluid.

Sebelum dapat dimulai pemboran relief well diperlukan survey yang akurat dari sumur Banjarpanji-1. Oleh karenanya tahap pertama yang direncanakan adalah re-entry well dimana tugas utamanya adalah untuk mendapatkan survey yang akurat tersebut. Jenis alat pemboran yang dipilih untuk melakukan survey ini adalah Snubbing Unit oleh karena dilokasi pemboran telah terjadi rekahan yang berarti daya tahan ( load bearing capacity ) dari lokasi diperkirakan sangat minimal.

Tahap kedua adalah melakukan pengeboran relief well sendiri. Untuk tahap ini ada tiga type sumur yang akan dibor. Pertama adalah monitoring well untuk mengetahui perubahan yang ada dilokasi pengeboran relief well agar desain dari relief well dapat dilakukan dengan efektif. Yang kedua adalah sumur yang akan menjadi target well untuk relief well . Barulah type sumur ketiga yaitu sumur relief well sendiri.

Rig yang dibutuhkan untuk pengeboran ini adalah minimum 1,500 HP rig. Beberapa buah rig menjadi calon kuat, dan yang dipilih adalah rig Century yang mempunyai pengalaman membuat relief well dan mematikan blow out di Bangladesh.

Re-entry Well dengan memakai Snubbing Unit

Seperti diutarakan diatas, tujuan utama dari sumur re-entry adalah untuk mendapatkan survey dari sumur yang akurat untuk membantu pengarahan ( direction control ) relief well . Untuk ini kedalaman yang bisa dilakukan survey sampai ke 2,950 ft. Upaya melakukan survey yang lebih dalam dengan melakukan survey didalam drill pipe tidak berhasil.

Tujuan utama dari operasi re-entry snubbing adalah untuk mendapatkan data gyro survey yang akurat sedalam mungkin. Survey ini diperlukan nanti pada relief kill well agar sumur dapat diarahkan masuk kedalam sumur Banjarpanji.

Tujuan lainnya dari operasi ini adalah melakukan observasi lain yang diperlukan, seperti temperature dan sonan log yang bisa men-deteksi adanya aliran dibelakang rangkaian casing . Dalam skenario ini, tugas Snubbing Unit adalah untuk mengumpulkan data, sedangkan tugas melakukan well killing maupun mendorong fish kedalam lubang tidak mungkin dilakukan karena keterbatasan dari alat itu sendiri.

Hasil yang diperoleh dari operasi re-entry snubbing adalah :

  • Diperoleh data gyro survey dari sumur Banjarpanji sampai kedalaman 2,950 ft.
  • Diperoleh data Sonan dan Temperature log sampai kedalaman 2,290 ft. Data tersebut menunjukkan tidak adanya aliran dibelakang casing .
  • Diperoleh informasi adanya deformasi pada casing dikedalaman 1,505' s/d 1,552' dengan i/d casing 11.1”
  • Fish masih berada ditempat semula dan tidak jatuh.

Kriteria untuk memilih unit ini adalah :

  • Snubbing Unit adalah alat yang ideal untuk melakukan tugas data collection. Ini disebabkan sebelum dapat melakukan survey, ada lapisan semen yang harus dibersihkan dahulu.
  • Snubbing Unit merupakan alat yang Minimum Footprint . Diperkirakan dengan adanya rekahan dan pergerakan dilokasi pemboran maka soil bearing capacity sudah sangat berkurang. Oleh karenanya BP MIGAS dan Lapindo setuju dengan pemakaian alat ini.
  • Personnel yang terbatas memudahkan evakuasi pada keadaan berbahaya.

Hari rig dan hari operasi:

  • Snubbing Unit - Sele Raya #02, 340 HP
  • Tanggal mulai: 30 Juni 2006
  • Tanggal selesai: 27 Juli 2006

Komentar :

  • Secara operasional, pekerjaan s nubbing unit telah sukses mencapai tujuan yang diberikan.
  • Kedalaman Gyro Survey yang didapat adalah 2,950 ft yang akan membantu dalam mengarahkan sumur relief well kedalam sumur Banjarpanji.
  • Sonan maupun Temperature logs yang didapat tidak menunjukkan adanya aliran fluida dibelakang casing. Fakta ini tidak mendukung hipotesa underground blowout.
  • Operasi Snubbing Unit tidak dapat dilanjutkan karena adanya fish didalam drill pipe dan telah terjadinya casing damage . Snubbing Unit tidak efisien dalam melakukan operasi side tracking dan diputuskan untuk diganti dengan rig konvensional.

Re-entry Well memakai PDSI Rig

Tujuan Utama dari re-entry well ini adalah meneruskan tujuan Snubbing Unit dengan melakukan side tracking disumur Banjarpanji. Hasil dan pembelajaran yang diperoleh adalah :

  • Perbaikan kerusakan casing pada kedalaman 1,522 ft. dengan casing swedge tidak berhasil
  • Beroperasi di lokasi Banjarpanji sangat berbahaya bagi operator karena:
    • Sewaktu waktu bund wall bisa runtuh dan lumpur panas masuk kedalam lokasi sumur.
    • Ketinggian bund wall mencapai 5 meter lebih diatas well head
    • Adanya subsidence dan pergerakan lateral yang serius di lokasi yang sangat membahayakan operasi

Kriteria pemilihan alat ini adalah karena alat ini tersedia

Hari rig and hari operasi :

  • Light rig – Pertamina OW #39, 700 HP
  • Tanggal mulai: 28 Juli 2006
  • Tanggal selesai: 18 Agustus 2006

Komentar :

  • Operasi Swedging untuk memperbaiki casing pada 1,505' – 1,522'. Operasi tidak berjalan lancar karena adanya kerusakan pada casing (split).
  • Diputuskan untuk memasang Whipstock untuk melakukan operasi side track diatas casing yang rusak.
  • Operasi Side Tracking terkendala dengan adanya casing damage yang dangkal (1,100 ft). Dengan kondisi sumur yang bertambah jelek dan demi keselamatan pekerja maka diputuskan untuk melakukan Plug and Abandonment .

Monitoring well memakai Century #24 rig (Side tracking oil well?)

Tujuan utama dari monitoring well ini adalah untuk mengetahui seberapa besar pengaruh dari semburan lumpur dan pergerakan tanah disekitarnya pada kekuatan batuan. Pengetahuan mengenai kekuatan batuan sesudah adanya pergerakan tanah ini diperlukan agar casing design bisa dilakukan dengan benar. Pengeboran sampai pada kedalaman 1,200 ft menunjukkan tidak ada perubahan yang cukup berarti dari keadaan asli. Hal ini menunjukkan bahwa casing design sudah benar dan tidak perlu dirubah.

Pengeboran sumur observasi ini bertujuan untuk mengetahui kondisi dari lapisan dangkal, efek dari semburan lumpur dan mendapatkan data LOT untuk casing design . Hasil dan pembelajaran yang diperoleh adalah :

  • Pemboran menunjukkan bahwa kondisi dari lapisan dangkal belum terpengaruh oleh semburan. Tidak terdapat charging up dari reservoir sampai kedalaman 1,200 ft.
  • Formation Integrity Test (FIT) pada kedalaman 1,200 ft adalah 12.6 ppg, yang mencukupi untuk well design .
  • Meskipun letaknya lebih dari 500 m dari pusat semburan, lumpur masih membahayakan pekerja pemboran karena sewaktu waktu bund wall bisa collapse .

Kriteria memilih unit ini: Rig ini dipilih untuk melakukan pemboran relief well .

Hari rig dan hari operasi:

  • Heavy Rig – Century #24, 1,800 HP
  • Tanggal mulai: 4 Agustus 2006
  • Tanggal spud : 16 September 2006
  • Tanggal selesai: 24 September 2006

Komentar tentang operasi pemboran:

  • Problem with Mud flowing to the drill site and issue with Access road. Move rig to Wunut 2 location away from danger.
  • Return to drillsite and rig up after filling rigsite with dirt approx 5 meters.
  • Drill surface hole in two stages to ensure safety. The LOT are as follows:
    • LOT 15.1 ppg at 606 ft.
    • FIT 12.6 ppg with open hole from 606 to 1,200 ft
  • This LOT and FIT indicated that the drill site is not affected by the mud flow down to the 1,200 ft. depth.
  • At this value of FIT, the Relief Well design can be drilled safely to the next planned casing shoe.

Relief Well - 1 (RW-1) memakai Rig Century-24

Tujuan utama dari relief well-1 (RW-1) adalah sebagai pandu untuk relief well selanjutnya. Oleh sebab itu Relief Well-1 bertugas untuk memasuki sumur Banjarpanji, dengan memakai teknik Ranging ke casing dan fish yang tertinggal, dan meneruskan sampai sedalam mungkin. Pada posisi terdalam inilah Relief Well-1 akan meninggalkan logam yang nantinya berfungsi sebagai pandu untuk relief well selanjutnya. Relief well -1 ini juga nantinya akan berfungsi sebagai pressure observation well diwaktu dilakukannya pemompaan kill fluid .

Pergerakan tanah dilokasi Relief Well-1 cukup serius sehingga terjadi dua kali casing rusak. Pertama casing 16” yang rusak pada kedalaman sekitar 1,100 ft sehingga 13-3/8” casing tidak dapat melalui posisi rusak tersebut dan harus dipasang diatasnya. Yang kedua adalah kerusakan casing 9-5/8” yang mengakibatkan sumur dilakukan abandonment.

Relief well-1 ( RW#1) gagal mencapai tujuannya. Beberapa kendala teknis dihadapi oleh pemboran ini, dengan perubahan kondisi tanah sebagai penyebab utama. Casing 9-5/8” telah mencapai jarak kurang lebih 300 ft dari sumur Banjarpanji-1, tetapi mengalami kerusakan parted casing . Sidetrack juga tidak memungkinkan karena tidak adanya semen dibelakang casing . Akhirnya diputuskan untuk ditinggalkan.

Tujuan utama:

  • Menjadi sumur pandu bagi Kill Well
  • Membantu dalam proses Well Killing sebagai sumur monitor tekanan atau berperan sebagai Kill Well kedua

Tujuan kedua:

  • Sebagai sumur yang dapat memasuki sumur Banjarpanji dan terus masuk sedalam mungkin. Hal ini dibutuhkan untuk kedua tujuan utama.

Hasil dan pembelajaran yang diperoleh:

  • Tidak berhasil mencapai tujuan utama maupun tujuan keduanya.
  • Terjadi dua kali casing collapse . Pertama pada casing 16” di kedalaman 1,100 ft, dan yang kedua pada casing 9-5/8” pada 3,223 ft.
  • Pengeboran terkendala oleh drilling problems yang sangat parah didaerah yang sudah terpengaruh oleh mud volcano. Problem yang dihadapi bukan hanya pada proses pengeboran tetapi juga pada casing dan penyamenan dimana integritas sumur tidak bisa dijamin dan membahayakan keselamatan pekerja pemboran.
  • Pada kondisi yang tidak menguntungkan, hampir semua service company memanfaatkan kelemahan kita untuk keuntungan mereka. Maka terjadilah permintaan pembayaran didepan, kenaikan harga book value, day rate yang sangat tinggi dan ‘arisan' mogok bergilir. Ini adalah kendala non teknis yang kita hadapi.

Kriteria untuk memilih unit ini adalah:

  • Sebagai rig yang akan melakukan Relief Well di daerah yang berbahaya, diperlukan sebuah rig yang mempunyai track record baik.
  • Sebagai rig yang akan melakukan Well Killing , pengalaman untuk melakukan hal yang sama sangat diperlukan
  • Rig Century 24 mempunyai pengalaman dalam mematikan sumur blowout di Bangladesh.

Hari Rig dan hari operasi:

  • Heavy Rig – Century 24, 1,400 HP
  • Tanggal mulai: 25 September 2006
  • Tanggal spud: 29 September 2006
  • Tanggal selesai: 24 Januari 2007

Komentar tentang operasi pemboran:

  • Drilling berjalan lancar sampai kedalaman 3,200' s/d 3,600' dimana drilling problem yang serius mulai muncul. Terjadilah loss circulation dan kick sehingga progress pengeboran sangat rendah.
  • Diperkirakan telah pengeboran telah menembus daerah yang terpengaruh oleh mud volcano. Keputusan yang diambil adalah melakukan open hole sidetrack untuk menjauhi daerah tersebut. Maka dilakukanlah sidetrack sampai kedalaman 2,836'
  • Terjadilah casing damage pada casing 16” di kedalaman 1,096 ft dan casing 13-3/8” harus dipasang dan disemen pada kedalaman 894 ft. dan line 11-3/4” dipasang pada kedalaman 2,836'.
  • Operasi pemboran berikutnya sangat sulit dan kemajuan pemboran sangat lambat. Problem pemboran seperti loss dan kick banyak terjadi. Diperkirakan pemboran sudah memasuki daerah labil dan terpengaruh oleh mud volcano.
  • Dengan memakai teknologi floating mud cap pemboran berhasil sampai kedalaman 3,594 ft. dan dipasang casing 9-5/8”. Ternyata didaerah labil, penyemenan tidak sempurna dan dan akibatnya terjadilah casing split .
  • Akhirnya diputuskan untuk melakukan Plug and Abandonment pada sumur RW#1

Relief Well RW#2 memakai rig PDSI #1

Tujuan utama dari Relief Well RW#2 adalah untuk mematikan semburan lumpur. Ini rencananya akan dicapai dengan memasuki sumur Banjarpanji sedalam dalamnya, atau paling dangkal sekitar 6,000 ft, dengan memakai sumur RW#1 sebagai pandu. Namun pada kenyataannya Relief Well RW#1 tidak berhasil meninggalkan benda metal sebagai pandu, sehingga RW#2 pun akhirnya tidak bisa di bor sampai selesai.

Tujuan utama:

Berperan sebagai sumur yang akan dipakai sebagai Kill Well dengan koordinasi yang baik dengan RW-1

Target dan pembelajaran yang diperoleh :

  • Target dari sumur tidak tercapai karena pemboran baru sampai pada kedalaman surface casing.
  • Terbukti bahwa melakukan operasi meskipun 500 meter disekitar mud volcano sangat berbahaya. Lokasi sangat labil dan bahaya lumpur panas yang sewaktu waktu bisa masuk kedalam lokasi pemboran.

Kriteria untuk memilih unit ini : Kemampuan dari rig dengan HP yang cukup tinggi.

Hari rig dan hari operasi:

  • Heavy Rig – PDSI #01, 1,400 HP
  • Tanggal mulai: 21 Oktober 2006
  • Tanggal spud: 22 Oktober 2006
  • Tanggal selesai: 13 Desember 2006

Komentar tentang operasi pemboran:

  • Sumur RW#2 dibor sampai kedalaman 1,170' dan dipasang surface casing . Rencana selanjutnya adalah menunggu sampai RW#1 selesai
  • Sumur RW#1 terkendala operasinya dan tidak berhasil memasuki lobang sumur Banjarpanji. Akhirnya diputuskan untuk melakukan Plug and Abandon bagi RW#2.

High Density Chained Ball

Teknik ini bukan untuk menutup semburan tapi untuk mengurangi volume semburan. High Density Chain Balls (HDCK) adalah rangkaian yang terdiri dari empat bola-bola beton dengan total berat sekitar 200-250 kilogram tiap rangkaian. Satu rangkaian terdiri dari empat bola-bola beton yang dihubungkan dengan kawat baja. Sebanyak 374 rangkaian bola beton telah berhasil dimasukan semenjak pertama kali dimasukan pada akhir Februari 2007. Ketika jumlah rangkaian yang dimasukan mencapai 146 rangkaian dengan kedalaman sekitar 900 meter di bawah permukaan semburan, nampak ada hasil yang cukup menggembirakan yaitu tekanan semburan menurun dan peningkatan kadar H2S. Namun selanjutnya semburan ini kembali pada kondisi semula dan tidak berhasil mengurangi volume semburan.


Pelajaran yang dipetik dari pengalaman pengeboran relief wells

Ada beberapa pelajaran penting dan berharga yang dipetik dari pengalaman melakukan pemboran didaerah yang sudah tidak stabil. Pelajaran ini penting artinya apabila memang diperlukan pengeboran relief well selanjutnya.

Pergerakan tanah :

  1. Lokasi pemboran didalam radius 1 km. tidak stabil dan rentan diserbu lumpur, ambles dan retak. Pemetaan dengan alat GPS menunjukkan tingginya subsidence rate didaerah tersebut dengan yang tertinggi adalah 5.53 cm per hari dilokasi sumur Banjarpanji (Istadi, 2008)
  2. Pergerakan kesamping ( transverse ) terjadi pada kedalaman sekitar 1,500 ft (di re-entry wells ) dan pada 1,100 ft (di Relief Well -1). Akibat dari pergerakan ini adalah terjadinya deformasi casing atau split dikedua sumur tersebut. Pada relief well , kerusakan tadi terjadi dalam kurun waktu kurang dari 30 hari.
  3. Pergerakan tanah juga telah merusak tanggul tangul lumpur dengan efek melubernya lumpur panas dengan sangat dahsyat.

Kemungkinan keberhasilan :

  1. Kendala terbesar adalah waktu pemboran memasuki daerah yang sudah tidak stabil. Disitulah mulai terjadi loss dan kick yang hampir bersamaan, suatu problem pengeboran yang paling tidak disukai dan harus dihindari. Penyemenan casing tidak akan berhasil dengan baik dan Leak Off Test akan rendah karena rendahnya kekuatan batuan disitu.
  2. Dilokasi pengeboran dengan radius sekitar 1 km menurut peta terakhir terjadi subsidence yang cukup tinggi. Pergerakan horizontal pada kedalaman sekitar 1,500 ft akan merusak casing dalam waktu yang cepat. Keretakan ditanggul tidak bisa dihindari meskipun lokasi sudah dibikin benteng yang kuat (semacam coffer dam).
  3. Kemungkinan keberhasilan dari sumur didalam radius kurang dari 1 km dinilai sangat kecil. Issue keselamatan dari pekerja menjadi prioritas utama

Perubahan struktur tanah dan kekuatan :

  1. Hasil dari monitoring well menunjukkan bahwa kekuatan batuan pada lokasi pemboran sekitar 500 m tidak berbeda banyak dengan kondisi awal. Namun peta terakhir sudah menunjukkan perubahan yang cukup signifikan pada jarak 1 km dari pusat semburan.
  2. Kondisi batuan sewaktu memasuki daerah terdampak sangat labil dan problem pengeboran mulai muncul. Kick dan Loss silih berganti. Operasi tertolong dengan pemakaian Rotating Head sehingga progress tetap ada. Namun penyemenan tidak dapat dilakukan dengan baik dilokasi tersebut dan casing collapse tidak bisa dihindari.

Isue Finansial :

  1. Penyedia Rig dan Service Companies akan minta special clause (dan kompensasi harian lebih tinggi) untuk bekerja di tempat yang berbahaya ( Dangerous and Harsh environment ).
  2. Akan sulit mendapatkan asuransi untuk pekerja maupun alat alat mereka. Contohnya pada waktu itu Schlumberger sama sekali tidak ingin berpartisipasi, yang lain minta kompensasi yang jauh lebih tinggi untuk mau bekerja ditempat yang berbahaya tersebut.
  3. Biaya pemboran akan berlipat ganda karena problem yang dihadapi dan premium rate yang diminta oleh tiap service companies .

Penanggulangan Semburan yang Dilakukan BPLS

Deputi Bidang Operasi Badan Pelaksana BPLS dalam upaya penanggulangan semburan lumpur tetap konsisten dengan memilih konstruksi yang plastis berupa konstruksi sandbag (karung yang diisi dengan sirtu) untuk memperkuat dan meninggikan tanggul cincin untuk mencapai elevasi rencana +15 .00 meter di sekeliling pusat semburan sebagai sarana pengendalian tekanan dan volume semburan (hydrostatic counter pressure) serta arah aliran lumpur untuk kemudian dipompa ke Kali Porong. Dalam kegiatan ini kendala yang dialami adalah subsidence (penurunan tanah terus menerus) berkisar antara 20-30 cm/hari pada lokasi tanggul cincin. Oleh karena itu sampai saat ini BPLS lebih fokus di dalam upaya penanggulangan luapan yang terjadi