PEMANTAUAN LINGKUNGAN

Dipublikasikan tanggal .

 

Hasil Pemantauan penurunan tanah

Deformasi geologi yang dapat berupa amblesan (subsidence), pengangkatan (up lift) dan pergerakan horizontal, telah memberikan dampak yang luar biasa terhadap penanganan semburan dan penanggulangan luapan lumpur. Dampak pertama adalah terjadi di periode awal semburan, di antaranya mengakibatkan turunnya muka jalan arteri Siring - Porong, bengkoknya rel kereta api, pecahnya pipa PDAM, pecahnya pipa Pertamina, dan putusnya jembatan jalan tol. Dampak lainnya adalah amblesnya tanggul penahan lumpur yang berada di sekitar pusat semburan, yang disebut dengan tanggul cincin, dan juga tanggul yang dibangun Bapel-BPLS untuk menahan luberan lumpur di sekitar area terdampak.

Data yang terkumpul dari tahun 2008 sampai dengan tahun 2010 menunjukkan bahwa deformasi geologi yang mengakibatkan pada penurunan tanggul penahan lumpur di daerah Siring telah terjadi beberapa kali, yang senantiasa beriringan dengan upaya penimbunan untuk peninggian tanggul. Data penurunan tanggul Siring tersebut dapat digambarkan sebagai berikut:

         Februari 2008 - Mei 2008 terjadi amblesan dengan rate of subsidence (RoS) sebesar 17,5 cm/bulan.

           Mei 2008 - Juni 2008 dilakukan penimbunan.

           Juni 2008 - Juli 2009 terjadi amblesan dengan RoS = 14,6 cm/bln.

           Juli 2009 - Agustus 2009 dilakukan penimbunan.

           Agustus 2009 - Desember 2009 terjadi amblesan dengan RoS = 10,4 cm/bln.

           Desember 2009 - Januari 2010 dilakukan penimbunan.

           Januari 2010 - Juni 2010 terjadi amblesan dengan RoS = 8,17 cm/bln.

           Juni 2010 - Agustus 2010 dilakukan penimbunan.

           Agustus 2010 - November 2010 terjadi amblesan dengan RoS = 5,25 cm/bln.

           November 2010 - Desember 2010 dilakukan penimbunan.

Dalam tahun 2011 menunjukkan bahwa deformasi geologi yang mengakibatkan pada penurunan dan jebolnya tanggul penahan lumpur di daerah Siring tidak sebanyak yang terjadi pada tahun 2010. Data penurunan dan atau jebolnya tanggul penahan lumpur yang terjadi pada tahun 2011 yang dipicu oleh adanya deformasi geologi terjadi 2 (dua) kali yaitu: yang pertama terjadi pada bulan Februari tepat di lokasi P-21, dan yang kedua terjadi pada bulan April 2011 sehingga memicu tanggul di lokasi P-68 (di daerah utara kolam lumpur - daerah Ketapang) jebol sepanjang 200m – 300m dan tanggul bergeser ke luar + 50m.

Selama tahun 2012 telah terjadi deformasi geologi di daerah sekitar tanggul P10D yang turun sedalam 40-50 cm dalam kurun waktu 1 tahun sepanjang 200 m dan di tanggul P80-81 sedalam 80 cm sepanjang 200-300 m.

Kondisi terakhir pemantauan penurunan tanah pada periode Oktober - Desember 2013 menunjukkan tingkat penurunan tanah terbesar terjadi di titik 10d (sekitar eks jembatan tol Porong) sebesar 6,5 cm per bulan, dan titik 21 sebesar 6,4 cm per bulan.

Dengan memperhatikan data penurunan tanah dari tahun 2010 sampai dengan tahun 2013, penurunan terbesar ada di sekitar tanggul titik 10d dan titik 21 dengan tingkat penurunan berkisar antara 5-7 cm per bulan. Kondisi deformasi geologi berupa penurunan tanah di titik tersebut yang berada di area tanggul sebelah barat perlu terus diwaspadai menginggat tanggul di sisi barat melindungi rel KA dan jalan arteri lama Porong.

           

Pemantauan kondisi bualan gas (bubble)

Kondisi bualan yang begitu meluas pada awal-awal terjadinya semburan, baik yang berupa gas, air maupun lumpur, tercatat mencapai sekitar 247 titik yang aktif.  Pada akhir tahun 2013 bualan aktif ini telah jauh menurun tinggal 24 titik, yang tersebar di desa Pamotan, Siring Barat, Ketapang, Candipari dan Pesawahan.  Di delapan desa lainnya bisa dinyatakan sudah bebas dari bualan aktif sehingga tingkat ancaman semburan gas berbahaya sudah sangat berkurang.

 Grafik Jumlah Bubble

Grafik Jumlah Bubble Terpantau dan Bubble Aktif (pada akhir tahun)