Deformasi Geologi di Luar Peta Area Terdampak

Dipublikasikan tanggal .

Crack (retak dan pecahnya batuan), subsidence (penurunan tanah), uplift (naiknya permukaan tanah) merupakan indikasi adanya patahan. Patahan-patahan inilah yang mengancam stabilitas tanggul penahan lumpur. Crack dan subsidence mengenai tanggul penahan luapan lumpur Sidoarjo, sehingga mengancam daerah di luar area peta terdampak. Crack berkembang di daerah Siring Barat dan Renokenongo. Sedangkan dinamika perkembangan subsidence paling cepat ke arah desa Siring Barat.

Untuk mengetahui karakteristik penurunan tanah ( land subsidence ) di luar peta area terdampak, telah dilakukan suatu pengukuran pemantauan deformasi geologi menggunakan alat Global Positioning System Geodetic .

Kegiatan Pemantauan Deformasi Geologi di Luar Peta Area Terdampak

Deformasi merupakan perubahan bentuk dan posisi suatu objek dalam jangka waktu tertentu. Perubahan bentuk objek ini terbagi dalam 3 fenomena yaitu: secular, periodik dan episodik. Perubahan bentuk secular berupa perubahan bentuk secara linier, lambat dan merambat. Perubahan bentuk secara periodik berupa perubahan yang mempunyai selang waktu antara detik sampai puluhan tahun. sedangkan perubahan bentuk episodik berupa perubahan bentuk secara tiba-tiba dan cepat.

Penggunaan GPS Geodetic

Salah satu metode geodetik untuk pemantauan deformasi ialah pengukuran dengan GPS ( Global Positioning System ). GPS ialah sistem satelit navigasi dan penentuan posisi yang berbasiskan pada pengamatan satelit-satelit Global Positioning System [Abidin, 2000; Hofmann-Wellenhof et al., 1997]. Prinsip studi penurunah tanah dengan metode survei GPS yaitu dengan menempatkan beberapa titik pantau di beberapa lokasi yang dipilih, secara periodik atau kontinyu untuk ditentukan koordinatnya secara teliti dengan menggunakan metode survei GPS. Dengan mempelajari pola dan kecepatan perubahan koordinat dari titik-titik tersebut dari survei yang satu ke survei berikutnya atau hasil data kontinyu, maka karakteristik penurunan tanah ( land subsidence ) akan dapat dihitung dan dipelajari.

GPS memberikan nilai vektor pergerakan tanah dalam tiga dimensi, dua komponen horisontal (X,Y) dan satu komponen vertikal (Z). Jadi disamping memberikan informasi tentang besarnya penurunan muka tanah, GPS juga sekaligus memberikan informasi tentang pergerakan tanah dalam arah horisontal. Keunggulan GPS ialah dapat dimanfaatkan tanpa tergantung waktu (siang maupun malam) dan dapat digunakan dalam segala kondisi cuaca. Dengan keunggulan semacam ini maka pelaksanaan survei GPS untuk pemantauan pergerakan dan penurunan muka tanah dapat dilaksanakan secara efektif dan fleksibel.

Pelaksanaan Pekerjaan Pengukuran Sampai dengan Pebruari 2009

Tim Geodetik Divisi Gas dan Deformasi Geologi Bapel-BPLS sampai dengan bulan Pebruari 2009 telah melakukan pengukuran sebanyak 28 titik, terdiri dari 14 titik pantau deformasi geologi, 8 titik bersama Virama Karya, dan 6 titik untuk registrasi citra wlayah Muara Kali Porong. Pekerjaan-pekerjaan meliputi :

  • Pengikatan basepoint TTG 1304 terhadap orde 0 Jaring Kontrol Horizontal Nasional (BAKOSURTANAL).
  • Pemasangan 3 (tiga) patok titik pantau deformasi yang baru, yaitu di Keboguyang, Candi, dan Pamotan.
  • Pengukuran dan pemantauan titik pantau deformasi geologi.
  • Pengukuran bersama Virama Karya untuk keperluan pembangunan infrastruktur di Muara Kali Porong
  • Pengukuran untuk keperluan registrasi citra satelit wilayah Muara Kali Porong.

     

Peralatan yang digunakan untuk pengukuran dan pemantauan deformasi geologi di luar Peta Area Terdampak ialah SOKKIA GPS Stratus L1 yang merupakan receiver GPS Single Frequency.

Basepoint yang digunakan untuk pengukuran dan pemantauan deformasi geologi ialah TTG 1304 (Bakosurtanal) di Kejapanan (± 7 km dari tanggul lumpur ke arah Selatan). TTG 1304 dipilih karena dianggap tidak mengalami deformasi sebagai akibat semburan lumpur Sidoarjo

Titik pantau deformasi dipilih pada lokasi yang merepresentasikan fenomena geologi yang terjadi di tanggul dan sekitarnya (misalnya terjadinya land subsidence dan crack ). Daftar patok dan lokasi yang telah dipasang dapat dilihat pada tabel berikut :

Nomor Patok
Lokasi
DG 01
Depan Posko Pengamatan Pengairan Porong
DG 02
Depan Restoran Porong, Jatirejo
DG 03
As jalan pintu masuk R # 1, Jatirejo
DG 04
As jalan dekat jembatan Puthul
DG 05
As jalan sebelum jembatan Tanggulangin
DG 06
Ketapang
DG 07
Siring Barat, depan pabrik Tjahaya Agung Tunggal
DG 08
Wunut
DG 09
Selatan jembatan, pintu keluar tol, Besuki
DG 10
Glagaharum

 

DG 11
Gempolsari
DG 12
Keboguyang
DG 13
Candi
DG 14
Pamotan
Tabel patok titik pantau deformasi geologi per Februari 2009

Pengukuran titik pantau deformasi geologi dilakukan dengan metode static survey, yaitu pengukuran dengan kedua receiver didirikan pada 2 titik diam (Base dan Rover berdiri pada titik selama pengukuran berlangsung). Lamanya pengukuran yang dilakukan tim geodetik yaitu ± 4 jam. Hasil pengukuran dengan GPS di download dan diolah dengan software Spektrum Survey Version 3.3. Untuk mengekspor hasil pemrosesan data ke format yang lain (.dxf, .txt), digunakan software Prolink Version 1.15.

Pengukuran pada patok-patok pertama kali dilakukan pada bulan Desember 2008 dan selanjutnya pada bulan Januari 2009 untuk mengetahui besaran deformasi yang terjadi selama satu bulan.

PETA DEFORMASI GEOLOGI STATUS FEBRUARI 2009
 
DIVISI GAS DAN DEFORMASI GEOLOGI
BADAN PENANGGULANGAN LUMPUR SIDOARJO
Keterangan :
Gambar panah pada peta menunjukkan arah displacement pada masing-masing patok, dimana warna merah displacement disertai dengan penurunan elevasi dan warna kuning disertai kenaikan elevasi