Penanganan Bubble Oktober 2010

Dipublikasikan tanggal .

 

Sebaran dan Aktifitas Bubble

Sampai dengan akhir bulan Oktober 2010, jumlah bubble aktif mengalami penurunan, dan penurunan jumlah bubble banyak terjadi di daerah bubble baru. Pada akhir bulan September 2010 jumlah bubble aktif sebanyak 94 titik, sedangkan pada akhir bulan Oktober 2010 jumlahnya berkurang menjadi sebanyak 77 titik atau jumlah bubble yang mati sebanyak 149 titik.

Tabel Sebaran dan tingkat keaktifan bubble – status 31 Oktober 2010

 

Tabel Sebaran dan tingkat keaktifan bubble – status 30 September 2010

Penambahan bubble aktif di daerah Babatan (3 titik), Wunut (1 titik), Besuki (2 titik), Kedungcangkring (1 titik), Mindi (2 titik) dan Jatirejo (1 titik), sedangkan daerah Kedungcangkring dan Jatirejo juga mengalami penurunan secara drastis.

Tabel Perubahan keaktifan bubble pada bulan September – Oktober 2010

 


Gambar 1. Grafik perubahan keaktifan bubble pada masing-masing desa

Berdasarkan tabulasi data-data pemantauan di atas dapat disimpulkan bahwa:

  1. Jumlah total sebaran bubble sampai dengan akhir bulan Oktober 2010 hanya bertambah sebanyak 9 titik.
  2. Ditinjau dari tingkat keaktifan, area Kedungcangkring dan Jatirejo mengalami penurunan secara signifikan. Pada akhir bulan Oktober 2010 di daerah Kedungcangkring cuma mengalami penambahan 1 titik bubble.
  3. Jumlah bubble aktif mengalami penurunan, dimana pada akhir bulan September 2010 jumlah bubble aktif sebanyak 94 titik dan pada akhir bulan Oktober 2010 jumlah bubble aktif menjadi sebanyak 77 titik.
  4. Keaktifan bubble menurun pada bulan Oktober 2010 dan cenderung di daerah selatan dan barat daya pusat semburan (Kedungcangkring dan Jatirejo).


Penanganan Bubble

Terdapat beberapa titik bubble berhenti menyembur serta beberapa titik bubble baru di daerah Jatirejo serta Mindi. Situasi tersebut dimanfaatkan untuk memperbaiki konstruksi separator yang pernah dibuat, yang sudah berkurang kekuatannya untuk menahan semburan pada saat aktivitas tinggi. Hal ini sekaligus sebagai antisipasi bila bubble yang sedang berhenti tiba-tiba aktif kembali.
Beberapa kegiatan penanganan terkait dengan semburan bubble pada bulan Oktober 2010 antara lain:

1. MN-17 (mushola Desa Mindi)

Semburan baru ini muncul di mushala Desa Mindi Rt 05/Rw 01, bubble keluar dari sumur gali, aktif pada tanggal 29 September 2010 pukul 23:30 WIB. Penanganan dilakukan dengan cara menutup sumur.


Gambar 2. Penutupan sumur pada bubble MN-17 di mushola Desa Mindi

2. JR-24 (belakang Polsek Porong)

Menindaklanjuti adanya laporan pada tanggal 27 September 2010 bahwa terdapat luapan air dan pasir yang keluar dari sumur bor di belakang Polsek Porong. Penanganan dilakukan dengan cara pemasangan pipa dialirkan ke sungai dan sebagian dimanfaatkan oleh Ibu Rita.

Gambar 3. Penanganan luapan air dan pasir pada bubble JR-24 di belakang Polsek Porong

3. PM-36 (Rumah Bapak H. Jamin, Pamotan)

Menindaklanjuti laporan dari warga Pamotan bahwa di wilayah tersebut ada yang mengalami keretakan di dinding rumah. Salah satu rumah yang mengalami keretakan adalah rumah Bapak H. Jamin. Penanganan dilakukan dengan menambal keretakan tersebut.


Gambar 4. Penanganan retakan pada bubble PM-36 di rumah Bapak H. Jamin, Pamotan

4. SB-02 (pabrik es PT Tirtasari Gemilang bagian belakang)

Menindaklanjuti adanya kebocoran yang menyebabkan separator bubble di pabrik es bagian belakang tidak bekerja secara sempurna, maka dilakukan perbaikan separator tersebut.


Gambar 5. Perbaikan separator yang bocor pada bubble SB-02 di pabrik es di bagian belakang

Kebanyakan bubble-bubble baru muncul di area selatan semburan, seperti di Babatan (3 titik), Besuki (2 titik), Wunut (1 titik), Mindi (2 titik) dan Jatirejo (1 titik) yang letaknya di sebelah selatan Kali Porong. Rata-rata bubble ini muncul dari sumur bor yang berkedalaman lebih dari 20 m, akan tetapi ada juga beberapa bubble yang muncul dari retakan tanah. Selain di area selatan tanggul, beberapa bubble juga muncul di area barat tanggul, seperti di Wunut dan Jatirejo.


Kejadian Lain Akibat Bubble

Pada bulan Oktober 2010 juga diwarnai dengan beberapa fenomena matinya bubble di daerah Jatirejo dan hampir semua bubble baru di Kedungcangkring. Selain fenomena muncul dan matinya bubble-bubble, pada awal bulan Oktober 2010 juga diwarnai dengan terbakarnya bubble yang berada di Desa Babatan (BT-1 dan BT-2) serta di daerah persawahan Wunut dekat dengan jalan arteri yang baru dibangun, namun kebakaran tersebut tidak mengakibatkan korban.

1) Bubble BK-2 di P42 (Besuki)

Bubble BK-2 yang muncul pada tanggal 24 September 2010 di dekat tanggul P42 Desa Besuki, karakteristiknya mirip dengan bubble yang ada di tempat Oki Siring Barat dan bubble di PT Lion Steel. Bubble membentuk lubang besar dengan kedalaman mencapai 5 m dan berdiameter 5 m. Pengamanan di lapangan dilakukan dengan membuat bendungan di sekitar bubble.


Gambar 6. Bubble BK-2 di P42



Gambar 7. Pada bulan Oktober 2010, bubble BK-2 di P42 dikuras untuk mengetahui morfologi bubble, ternyata gas bubble berasal dari retakan tanah sekitar


2) Amblesan bubble JR-11 (Jatirejo) pada tanggal 21 Oktober 2010

Pada lokasi bubble JR-11 (Jatirejo) yang muncul pada tahun 2009, yaitu bubble lama di pasar buah milik Bapak Herman. Pada semburan bubble ini pernah dilakukan percobaan pemipaan Bernoulli oleh ITS dan pernah pula terbakar. Pada tanggal 20 Oktober 2010 terjadi amblesan pada lokasi bubble yang terdapat sekitar 3 (tiga) titik bubble kecil-kecil, dimana bubble yang dari sumur bor sudah mati, kemudian di ruko belakang ada bubble yang mengeluarkan lumpur (kecil), yang sebenarnya sudah mati semenjak tahun 2009, tetapi pada akhir bulan September 2010 bubble tersebut aktif lagi, dan menyebabkan amblesan.

Pada tanggal 20 Oktober 2010 Pukul 06.00 WIB, setelah mendapat laporan dari masyarakat bahwa ada amblesan di ruko Bapak Herman, tim langsung menuju ke lokasi untuk melakukan pemeriksaan. Hasil pemeriksaan menunjukkan paparan gas kosong, diameter amblesan 5 m, dan kedalaman kolam yang terbentuk akibat amblesan sekitar 6 m.
Setelah melakukan koordinasi dengan pejabat PT KAI pada tanggal 21 Oktober 2010, lalu dilakukan perobohan bangunan di sekitar amblesan, untuk kemudian dilakukan pengurukan lubang amblesan dengan material bangunan yang dirobohkan dan sirtu sebanyak 8 dump truck.

Gambar 8. Lokasi amblesan pada ruko di Jatirejo


Gambar 9. Amblesan di dalam ruko


Gambar 10. Lubang amblesan yang terbentuk


Gambar 11. Perobohan puing ruko (kiri) dan hasil pengurukan lubang amblesan (kanan)