Dinamika Semburan Gas di Sekitar Peta Area Terdampak

Dipublikasikan tanggal .

Dalam sebulan terakhir kondisi kawasan sekitar pusat semburan terjadi fenomena peningkatan dan penurunan aktifitas semburan gas (bubble). Fenomena ini juga pernah terjadi sebelumnya, yaitu pada pertengahan 2008 sampai pada awal 2009. Berdasarkan hasil penelitian Badan Geologi Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral, fenomena meningkatnya aktifitas bubble tersebut disebabkan oleh beban permukaan yang semakin besar di kolam penampungan lumpur. Pembuangan lumpur dari pusat semburan ke Kali Porong yang terhambat menyebabkan volume lumpur di kolam penampungan semakin banyak dan membebani area kolam, sehingga berakibat gas muncul ke permukaan melalui rekahan-rekahan yang ada karena tertekan. Setelah terjadi peningkatan tekanan pada awal bulan Mei, awal bulan Juni ini tercatat sekitar 7 bubble dinyatakan mati. Meskipun semburan sudah mati, petugas dari tim deformasi Bapel BPLS terus melakukan pemantauan terhadap aktifitas bubble ini. Karena menurut pengalaman, bubble yang sudah mati masih bisa aktif kembali.

Untuk mengamankan wilayah di sekitar munculnya bubble agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, Bapel BPLS memasang pipa yang berfungsi untuk memisahkan gas hidrokarbon dan air yang keluar di titik munculnya bubble, gas diarahkan ke atas agar bisa terurai di udara dan tidak mengganggu pernafasan. Sedangkan air dialirkan ke saluran drainase dalam keadaan bersih dari gas hidrokarbon. Sejauh ini kandungan dan kadar gas yang keluar dari beberapa bubble juga bervariasi, ada yang kadar gasnya tinggi dan berada di atas ambang batas, ada juga yang kadar gasnya rendah dan masih di bawah ambang batas.

Nur Khasanah (Warga Kel Siring)
Hidup di sini sudah sangat tidak tenang, di sekitar kami sangat banyak gas bermunculan. Kami sudah ada rencana untuk pindah, namun uang masih belum ada. Warga menyayangkan sikap pemerintah yang tidak tanggap dengan kenyataan di lapangan, sudah cukup bukti yang menyatakan bahwa daerah kami dan sekitarnya sudah tidak aman. “Jangan hanya bilang fenomena alam, tapi tidak ada upaya penyelamatan”.(Jawa Pos, Kamis 14 Mei 2009)

Win Hendrarso (Bupati Sidoarjo)
Tiga kawasan tersebut (Kelurahan Siring, Jatirejo dan Mindi) sudah diusulkan untuk masuk ke area peta terdampak. Namun masih belum ada jawaban dari pemerintah pusat. (Jawa Pos, 28 Mei 2009)

Jalaluddin Alham (Dewan Pengarah Pansus Lumpur Sidoarjo)
Bertambahnya titik semburan gas di wilayah Kelurahan Mindi, Siring dan Jatirejo semakin membuat wilayah tersebut tidak layak huni dan Meminta BPLS untuk segera menindaklanjuti rekomendasi tim independen yang dibentuk oleh Gubernur Imam Utomo, mengingat anggaran evakuasi terhadap warga tiga desa sudah dianggarkan dalam APBN 2009. (Jawa Pos, 12 Mei 2009)