Penerapan IPTEK Kebumian Pada Bencana Kebumian Semburan MUD VOLCANO

Dipublikasikan tanggal .

Metoda GPS tandem dengan InSAR yang sebelumnya menjadi SOP baku studi Deformasi/GeoHazard (Abidin 2008 dan Fukhushima 2009), selanjutnya telah mengalami REVOLUSI, dikembangkan pada dua aspek:

1) 2013 digunakan untuk menentukan Panjang Umur semburan Lusi berdasarkan fakta terJadinya penurunan intensitas deformasi amblesan (subsicence) dengan pola exponential decay dari amblesan versus semburan versus tekanan overpressure di sumber lumpur;

2) Paper terbaru diterima LUSI LIBRARY Agustus 2015 dikirin Prof. Max Rudolph,
Metoda InSAR juga MULAI digunakan untuk mendukung bukti terjadinya pergerakan/pemindahan material lumpur dari sumber dangkal ( F. Kalibeng) dan pergerakan fluida ke permukaan dari sumber dalam  (deep seated fluids) kedalaman > 4700m (Serpih Ngimbang).

 

Mendukung Perubahan Mendasar Pemahaman pada Sistem LUSI.

Lusi sebagai suatu sistem dalam (sebelumnya sistem dangkal) karena terjadi percampuran sumber lumpur dangkal dan fluida dari dalam yang melibatkan serpih di Formasi Ngimbang kedalaman >4000m dihubungan dengan fenomena hidrotermal mengalami pemanasan dari intrusi magma .sistem gunung magmatik.

Jadi total ada 6 alternatif sumber air dan fluida-gas yang telah ditentukan. Sebagai perbandingan awalnya Davies (2007) konsisten bahwa lumpur dari F. Kalibeng dan sumber Air dari reservoir di batugamping F. Prupuh, bergerak ke atas menembus sumber lumpur pada kondisi overpressure. Sedangkan Mazzini (2007) awalnya fokus bahwa sumber air terutama sebagai hasil proses transformasi mineral lempung ilit ke smektik di Formasi Kalibeng, Data Baru dan Inovasi Baru menghasilkan Pemahaman Baru!

Menjadi semakin mengkristal BENCANA KEBUMIAN LUSI MUD VOLCANO menjadi Pusat Keunggulan Studi mud volcano di Indonesia dan dunia (semakin banyak Doktor-Master-Sarjana LUSI).

Menjadi semakin relevan arahan Ketua DP BPLS Lusi ke depan menjadi suatu GeoPark.

(AS-DatInfo)