Aksi Warga Menutup Akses Tanggul di Titik 42

Dipublikasikan tanggal .

Warga yang mendirikan tenda di P.42, yang merupakan gabungan dari warga Desa Renokenongo termasuk Mrisen, menutup akses tanggul dari 42 ke 43 (utara), dan dari 42 ke 88 (timur). Penutupan akses dilakukan menggunakan "gedhek"(lembaran anyaman bambu) yang melintang tanggul.

 

Aksi dilakukan guna memberikan tekanan kepada seluruh pihak yang terlibat dalam penanganan pembayaran tanah dan bangunan di Peta Area Terdampak (PAT) 22 Maret 2007, terutama PT. Lapindo Brantas/ PT. Minarak Lapindo Jaya (MLJ). Mereka juga berharap Pemerintah dapat mencari solusi yang konkrit sambil menunggu realisasi peluasan terhadap seluruh warga korban lumpur yang dijanjikan PT. MLJ akan diselesaikan bulan Mei ini.

Aksi berjalan dengan tertib, dan warga juga meminta BPLS mengeluarkan seluruh aset yang berada di area yang telah ditutup untuk menghindari resiko kerusakan/ kehilangan. Akibat penutupan ini, petugas BPLS tidak dapat memasuki area yang ditutup untuk melakukan pemantauan kondisi tanggul dan luapan lumpur. Aksi ini merupakan lanjutan dari tidak bolehnya BPLS melakukan seluruh aktifitas di area PAT sejak 13 Maret 2013.

Dari pemantauan terkini di lapangan terkait kondisi endapan lumpur dan elevasi air di kolam penampung, menunjukkan di titik 35 (Pejarakan) dan di titik 41 (Besuki) elevasi permukaan air sudah mendekati bibir tanggul. Bahkan di titik 41, air sudah mulai meluber dengan intensitas kecil dan terdapat beberapa titik rembesan air. Air mengalir ke arah timur ke eks tol Gempol, dan telah menggenangi halaman depan kantor lapangan BPLS di titik 41. BPLS belum dapat melakukan penanganan sebagaimana semestinya mengingat kondisi yang belum kondusif. (HUMAS)a

pemblokiran tanggul