Uji Coba Jalan Arteri Baru (KETAPANG) Dan Flyover TANGGULANGIN

Dipublikasikan tanggal .

Setelah lebih dari setahun ujicoba jalan arteri baru Raya Porong pada tanggal 15 Maret 2012, maka pada tanggal 24 Juli 2013 telah dilakukan uji coba jalan arteri baru yang berada di Kel. Ketapang. Sebelum dibukanya jalur yang menuju Kel. Ketapang tersebut, kendaraan dari tol Sidoarjo yang ingin ke arah Tanggulangin harus keluar di exit tol lama (jembatan putul). Dengan dibukanya akses pembatas tol oleh Jasa Marga (selaku pengelola tol) maka kendaraan yang menggunakan tol dari arah Sidoarjo, bisa keluar ke arah tanggulangin melalui jalan arteri baru di Kel. Ketapang.

Penelitian Kesejahteraan Umum Korban Lumpur Sidoarjo

Dipublikasikan tanggal .

PenelitianKesejahteraanUniversitas Muhammadiyah Sidoarjo mengadakan seminar dengan tema Kesejahteraan Umum Korban Lumpur Sidoarjo di Pemukiman Baru. Penelitian ditujukan untuk mengetahui kondisi kesejahteraan warga korban lumpur di lokasi pemukiman baru. Adapun pemukiman diteliti berada di Ngering, Kejapanan, Kedungmules, Kedungcangkring (selatan Kali Porong) yang diidentifikasi sebagai salah satu wilayah yang didiami warga korban lumpur dari daerah Kedungcangkring, Besuki, dan Pejarakan. Untuk KNV dan Komplek Renojoyo mewakili salah satu pemukiman yang diantaranya didiami oleh warga korban PAT 22 Maret 2007 yang berasal dari berbagai desa/ keluarahan yang rumahnya sudah terendam lumpur.

Upaya Pembuatan Alur di P.10D

Dipublikasikan tanggal .

upayaPenanggulanUntuk kesekian kalinya, endapan lumpur basah di tanggul titik 10D Kel. Siring terus meninggi mendekati bibir tanggul. Pemantauan aliran lumpur dari pusat semburan menunjukkan bahwa lumpur basah mengalir ke lokasi tersebut dengan intensitas sedang - deras. Lumpur basah tersebut menumpuk di sekitar sepanjang tanggul di area 10D, dan tidak dapat mengalir ke selatan menuju area pengerukan, sebagaimana yang diharapkan.

Warga Menolak Aktivitas Pengaliran Lumpur, Tanggul Dalam Status Bahaya

Dipublikasikan tanggal .

Kondisi endapan lumpur yang berada di sekitar titik 22 dikategorikan dalam status bahaya, sebagaimana yang telah dipantau oleh pimpinan Bapel-BPLS pada tanggal 14 Mei 2013. Dapat dipantau di lokasi tanggul sekitar tanggul titik 22, endapan lumpur telah mendekati bibir tanggul sepanjang hampir 100 m. Kategori penetapan status bahaya adalah tingginya selisih elevasi puncak tanggul dengan elevasi endapan lumpur yang kurang dari 1 meter.

Aksi Warga Menutup Akses Tanggul di Titik 42

Dipublikasikan tanggal .

Warga yang mendirikan tenda di P.42, yang merupakan gabungan dari warga Desa Renokenongo termasuk Mrisen, menutup akses tanggul dari 42 ke 43 (utara), dan dari 42 ke 88 (timur). Penutupan akses dilakukan menggunakan "gedhek"(lembaran anyaman bambu) yang melintang tanggul.