Penanganan Darurat di Tanggul Titik 73

Dipublikasikan tanggal .

 

Bapel-BPLS melakukan penanganan darurat di area kolam Ketapang titik 73, tepatnya ruas 73A - 73C. Sejak September 2014 pada lokasi tersebut telah beberapa kali terjadi luberan lumpur dan air. Penanganan yang dilakukan pada waktu itu adalah dengan memasang karung pasir agar luberan tidak sampai menggerus tanggul yang berpotensi menimbulkan jebolan.

Pengembangan Teknologi Pupuk Hayati dan Ekspotensi Metabolit Bakteri Termotoleran dari Lumpur Sidoarjo

Dipublikasikan tanggal .

 

BPLS bekerjasama dengan Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya melakukan kegiatan uji laboratorium potensi bakteri yang berasal dari Lumpur Sidoarjo. Potensi kombinasi bakteri yang ditemukan pada Lusi selanjutnya dikembangkan untuk digunakan sebagai bahan campuran pupuk hayati yang akan diujicobakan pada tanaman. Adapun jenis tanaman yang dikembangkan untuk pembibitan adalah tanaman untuk penghijauan dan beberapa jenis tanaman pertanian yang produktif.

Menteri PU : Pemerintah Bayar Korban Lumpur Sidoarjo

Dipublikasikan tanggal .

Pemerintah memastikan akan membayar korban lumpur Lapindo Sidoarjo. Dalam rapat koordinasi BPLS, Rabu (24/9) di Jakarta, pihak PT Minarak Lapindo Jaya menyatakan sudah tidak mampu membayar sisa tanggungan Rp 781,6 miliar. Dana untuk pembayaran korban lumpur akan dibayar dengan APBN 2015.

POS PANTAU BPLS TERBAKAR

Dipublikasikan tanggal .

Sidoarjo - Pos pantau BPLS di titik 21 terbakar pada Sabtu, 7 Juni 2014. Pos yang dibangun pada tahun 2008 ini semula berfungsi sebagai kantor lapangan untuk mengefektifkan pemantauan bubble (bualan gas), yang pada saat itu banyak ditemui di sekitar Desa Siring bagian barat dan Jatirejo, serta untuk memantau kondisi endapan lumpur di sekitar tanggul. 

Dosen Petra ciptakan beton dari lumpur Lapindo

Dipublikasikan tanggal .

Surabaya (ANTARA News) - Dosen Universitas Kristen Petra Surabaya Prof Djwantoro Hardjito PhD menciptakan beton dengan bahan baku dari lumpur Lapindo yang meluap sejak 29 Mei 2006 dengan luapan lumpur saat ini sudah seluas 640 hektare dan setinggi hingga 12 meter.

"Sejak tahun 2011, saya meneliti kemungkinan lumpur Lapindo dijadikan bahan baku untuk beton dan akhirnya saya menemukan dua kemungkinan yakni bahan campuran semen dan bahan dengan larutan alkali," katanya di Surabaya, Selasa.